Selamat Datang Di LENTERA CERPEN ,semoga cerpen yang ada di blog ini dapat bermanfaat bagi kalian dan SELAMAT MEMBACA

Sabtu, 10 Agustus 2013

Ikhlas

Terdengar suara tawa, teriakan, bising, gaduh bahkan suara tv yang seolah dibiarkan menyala dengan volume yang besar. Mengganggu tidurku kala itu. Dengan pandangan yang masih kabur dan tubuh yang masih letih ku paksakan diri ini untuk segera bangun dari pulau kapuk. Ku kenakan kacamataku lalu ku matikan kipas angin yang masih berputar dan berdenyit di kamarku. Dengan sempoyongan aku mulai membuka pintu kamarku dan membiarkan kegaduhan yang terdengar itu ku lihat. Ternyata kegaduhan itu berasal dari teman-teman satu kampus sekaligus satu kontrakan denganku. “Eh bangun juga lu.” Saut salah seorang temanku yang bernama Agung begitu melihatku keluar dari kamar. Hari itu aku sedang tak ada kelas dan berniat untuk bermalas-malasan di kontrakan yang ku tinggali bersama teman-temanku ini tapi memang itu sih yang sering ku lakukan hehe. Mungkin memang bukan waktu ku untuk bermalas-malasan hari ini karena aku diajak oleh Agung untuk ke kampus yang ingin menghadiri rapat EO (Event Organizer) di kampusku. Awalnya aku menolak tapi karena bujuk rayunya aku pun mulai mandi dan mengikutinya ke kampus.

Oh iya, aku belum memperkenalkan diriku. Namaku Rio mahasiswa semester 3 di salah satu Universitas di Jakarta. Jurusan kuliah ku adalah Managemen Komunikasi oleh karena itu ada mata kuliah EO yang menjadi mata kuliah wajib untuk jurusan ku. Awalnya niat ku mengikuti Agung untuk menghadiri rapat EO tersebut adalah ingin lebih tau bagaimana mata kuliah itu berjalan. Wajar saja karena saat itu aku belum mengambil mata kuliah tersebut. Di sinilah awal cerita baruku dimulai. Saat aku bertemu dengannya. Seorang gadis yang berhasil mencuri hatiku. Namanya adalah Lita. Bertubuh kecil, berwajah putih, bersuara agak cempreng dan dia juga mengenakan hijab. Aku memang sangat suka melihat gadis yang mengenakan hijab di kepalanya karena buatku itu adalah tanda ketakwaannya pada Tuhan. Dia juga adalah orang yang smart. Dari mana ku tahu? Itu karena selama mengikuti rapat aku selalu memperhatikannya. Dari cara dia berbicara, cara dia mengeluarkan pendapat hingga cara dia memimpin rapat. Seorang perempuan menjabat sebagai ketua dan mampu memimpin jalannya rapat? Aku pikir dia lebih smart dari yang ku lihat saat itu. Ternyata ikut menghadiri rapat temanku ini bukan lah sebuah kesalahan karena aku bisa bertemu dengannya dan di sinilah pertama kali aku mengenalnya.

Tanpa disadari waktu terus berjalan, hari terus berganti dan pertemananku dengan Lita pun terus berlanjut. Hingga saat ini aku sudah memasuki semester 8 dan Lita sudah lulus lebih dulu. Bukan karena dia senior ku tapi karena dia yang menjalani kuliah dengan waktu cukup singkat yaitu 3,5 tahun. Masih terngiang di telingaku bagaimana suaranya saat dia tertawa. Masih terbayang di ingatanku bagaimana senyuman manisnya membuatku bersemangat untuk kuliah. Masih terlintas di benakku bagaimana cara dia berjalan. Semua ingatan itu masih tersusun rapi di dalam memori otakku ini walaupun aku harus bisa menerima kenyataan jika aku tak bisa memilikinya. Sudah hampir 2 tahun lebih aku mengenalnya dan sudah selama itu juga aku memendam rasa padanya. Entah apakah dia menyadarinya atau tidak? Apakah dia tahu jika aku selalu tersiksa ketika harus melihatnya tertawa karena pria lain? Apakah dia tahu jika dialah yang menjadi alasanku untuk rajin kuliah? Hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Masih teringat di benakku saat aku harus mengantarkannya pagi-pagi buta ke stasiun. Kala itu dia meminta kepada teman-temanku untuk mengantarkannya ke stasiun pagi sekali tapi tidak ada yang bisa. Aku pun menawarkan diriku untuk mengantarnya walaupun ku tahu dia tak pernah meminta langsung padaku. Kala itu aku hanya ingin merasakan waktu berdua dengannya walaupun ku tahu dia akan pergi ke Semarang untuk berjumpa dengan kekasihnya. Menikmati soto bersama dengannya sembari menunggu kereta tiba. Hingga mengantarkannya sampai ke depan pintu kereta. Dan aku harus telat masuk kuliah pagi karena harus mengantarkan Lita ke stasiun. Itu semata-mata karena aku menyimpan rasa padanya.
Tapi bagaimanapun aku harus tetap menerima kebenaran jika aku tak pernah bisa memilikinya. Aku harus menerima takdirku karena harus melihatnya bahagia bersama orang lain. Aku harus bisa menahan rasa sakit ini ketika tahu aku bukanlah pria yang beruntung untuk memilikinya. Mungkin ini konsekuensi yang harus ku terima karena aku yang tak pernah berani menyatakan cinta. Ini adalah sesuatu yang kudapat dari apa yang selama ini hanya bisa ku pendam. Sebuah rasa cinta yang sederhana namun menyakitkan ketika cinta itu harus dipendam dalam-dalam selamanya. Tapi ini adalah jalan takdir yang ku pilih sendiri, jalan takdir yang harus ku lalui. Tak pernah luput dari mulutku tiap aku mengucap do’a pada Tuhanku untuk kebahagianmu. Tak pernah lupa aku selalu menyebut namamu di tiap aku meminta perlindungan pada Tuhanku. Ya Tuhan, jika memang ini yang terbaik dari apa yang ku dapat, jika ini memang jalanmu untuk kebahagian ku dan kebahagiaannya dan jika ini adalah jalan yang bisa membuatnya selalu tersenyum maka aku ikhlas ya Tuhan. Aku ikhlas.

========================================================================
Karangan :
  • Rahardian Shandy

Blog :


Facebook :

  • Rahardian Shandy

========================================================================

Bersamamu

“Untung kamu sudah datang, pembukaan lomba bentar lagi mulai tuh.” Pak Sartono – guru agama di SMP 2 Mataram tempat aku sekolah – mengomeliku yang datang tergopoh-gopoh berlari kecil dari gerbang sekolah.
“Maaf pak telat, yang lain sudah datang?”
“Sudah ada Imam sama…”
“Eh kak Fer udah dateng.” Suara Imam memecah ucapan Pak sartono, aku tak mendengar nama siapa tadi yang disebutnya. “ah Imam, ayo dah dimana tempat pembukaannya? Langsung saja kita kesana?.” Aku menarik tangan Imam mengajaknya ke tempat pembukaan. “tunggu Anggun dulu kak.” Imam melepaskan tangannya dari genggaman. “eehh, siapa Anggun?” aku heran.
“Kakak ini tau tim kita gak sih? Kan cerdas cermat dimana-mana bertiga kak.” Imam menunjuk ke arah anak yang sedang duduk di bawah pohon mangga.
“Anggun cepet!” Imam melambaikan tangan kepada anak itu.
“Iya kak tunggu.” Anak itu berdiri dan berlari ke arah kami.
Namanya Anggun, Anggun Aprillia Sani. Ini awal cerita aku mengenalnya. Seorang anak kecil yang cantik, lucu, imut – pipinya tembem kayak bakpao – anak yang ceria dan manis. Kami saat itu mengikuti lomba MFQ – Musabaqoh Fahmil Qur’an, lomba cerdas cermat dalam bidang agama Islam. Kami satu tim. Imam dari kelas 8A: aku, Ferry, Firyal Dhiyaul Haqqi – tak ada unsur kata ‘Ferry’ dalam nama lengkapku, semua bertanya begitu, aku tak tau – dari kelas 9H: dan dia, Anggun dari kelas 7A.
“Maaf kak lama.” Wajah ceria itu tersenyum manis padaku. “oh iya gak apa-apa kok.” Aku balik tersenyum padanya. “ayo kak.” Imam balik menarik tanganku sekarang.

Lomba itu diadakan di SMP 1, lokasinya di sebelah SMP kami. Saat itu kami mendapatkan juara 1. Dan lolos ke tingkat kota.
“Selamat nak.” Pak sartono menyambut kami di luar ruangan.
“Alhamdulillah tadi dapet soal yang gampang karena Anggun yang milih soalnya.” Imam terlihat sumringah setelah keluar dari ruangan lomba.
“Iya tadi sistemnya kita dikasih pilihan soal dalam amplop. Tiap regu ngambil 1 soal. Terus yang ngambil Anggun. Waaahhh memang beruntung banget.” Aku menjelaskannya pada Pak Sartono yang tersenyum melihat kami mendapatkan juara. “Iya bapak sudah tau kok Fer, gak perlu kamu jelasin.” Pak sartono menepuk-nepuk bahuku. Anggun hanya tersenyum. Rupanya dia masih malu dengan kakak-kakak kelasnya. Maklum lah, dia kan masih anak kelas 7. Padahal baru saja kita berada dalam satu tim.

Di tingkat kota, kami mendapatkan juara 3, walaupun Anggun kembali mengambil soal yang gampang, tapi lawannya pintar-pintar semua. Maklum lah mereka dari sekolah Madrasah. Mendapatkan juara 3 membuat Imam sedikit sedih, mungkin dia merasa bersalah karena dia yang menjadi juru bicara tim kami, dia merasa bertanggung jawab, tapi ini kan perlombaan tim, jadi tak ada yang bisa disalahkan, kemenangan adalah kemenangan tim, dan kekalahan juga adalah kekalahan tim. Aku mengungatkan Imam. Anggun juga terlihat masam. Lomba itu selesai sore hari. Kami berfoto-foto dengan tim finalis untuk dimuat di koran Lombok Post. Hari itu terasa panjang. Walau kecewa, kami setidaknya telah melakukan yang terbaik, bagi tim kami, dan bagi sekolah kami.

Setelah hari itu, kehidupan sekolah kembali berjalan seperti biasa. Lomba telah usai, dan kebiasaan sekolah kami adalah mengumumkan hasil lomba-lomba yang diikuti murid-murid setelah upacara hari senin selesai. Kami bertiga maju. Aku bertemu Anggun lagi saat itu. Dia tersenyum manis menyapaku, “Hai kak, lama gak ketemu, hehe.” Pagi itu cerah, dan sapaannya tadi menambah keceriaan di pagi itu.
“Kak Fer!” Imam datang dari arah barisan sebelah selatan.
“Anggun, Imam.” Aku tersenyum pada mereka yang menyapa dengan hangat.
Hari itu kami terlihat hebat di sekolah kami, maju ke depan, disaksikan semua warga sekolah untuk diberikan piala sebagai simbolisasi, karena piala itu akan dipajang di lemari piala sekolah.

Setelah Senin yang membanggakan itu, aku jarang bertemu mereka. Aku juga sibuk persiapan ujian nasional. Aku sudah kelas 9. Saatnya fokus untuk bisa masuk ke SMA impianku, SMA Negeri 1 Mataram. Siapa yang tak mengidam-idamkan SMA itu? Berisi anak-anak terbaik se-pulau Lombok. Anak-anak pilihan. Betapa bangganya mengenakan seragam khas SMA itu. Juga karena kakakku yang sudah lebih dahulu berada disana menjadi lecutan semangatku. Karena selama ini aku selalu mengikuti jejaknya. SD sama, SMP juga, dan SMA harus bisa sama dengannya.

Sebulan berlalu, kembali ke kehidupan normal. Bersama teman-teman sekelas yang gila-gila. Teman sebangkuku yang bernama Adit – dia playboy, sangat playboy, muka sih biasa-biasa aja, standar lah, gantengan juga aku – bercerita-cerita di waktu jam istirahat. Dia cerita kalau dia baru aja mutusin pacar barunya – mutusin pacar baru? Gila ni anak – yang anak kelas 7D, namanya Rina, aku kenal dia. Selama dia pacaran sama si Playboy Adit ini, dia sering curhat sama aku. Secara gitu dia tau kalau aku teman sebangkunya Adit.

Apalagi setelah dia diputusin sama si Adit, Rina jadi temen sms-anku tiap malam. Dia curhat, galau katanya, maklum anak SMP rentan galau. Putusnya dia sama Adit buat saya sama Rina jadi deket – hubungan kakak-adik apa lah namanya – karena aku sudah nganggap dia sebagai adik sendiri. Kasian anak itu, rupanya terlalu cinta sama yang namanya Adit. Dasar playboy.

Aku sering main-main ke kelasnya Rina. Entah kenapa, setelah dekat dengan dia, sepertinya rasa suka’ muncul. Setelah dari kelas 7 sampai kelas 9 semester 1 aku jatuh cinta dengan seorang anak blasteran arab bernama Ismi, sekarang move ke anak kelas 7D ini. Tapi Rina ternyata suka’ sama temenku, temen aku SD, namanya Hadi. Galau, itu tema aku setiap malam – sekali lagi, anak SMP rentan galau.
Hingga suatu hari, aku sama Hadi main-main ke kelasnya Rina. Itu jam istirahat. Melihat Spendu – nama singkat SMP 2 – dari atas lantai 2.
“Hei dek!” itu Anggun, aku menyapanya setelah melihat dia jalan bersama temannya menuju ke arahku.
“Iya kak?” dia tersenyum manis seperti biasa.
“Nnnggg… Boleh minta nomer HP gak?” aku gak tau apa yang ada dipikiranku saat itu, tiba-tiba bisa ngomong to the point gitu. Aku sendiri bingung. Itu kan pertemuan pertama setelah lama gak bertemu dia.
“Boleh kak.” Anggun mengangguk tersenyum malu.
“Di, tulisin dong nomer HP-nya Anggun nih.” Hadi yang memegang Handphone-ku langsung mencatatnya.
“Makasi ya dek.” Aku tersenyum padanya. “iya kak.” Anggun balas senyum. Lalu pergi bersama temannya.

Semenjak aku dan Anggun bertemu kurang lebih sebulan yang lalu di acara MFQ, aku tak tahu nomer HP Anggun, tak pernah terlintas untuk memintanya saat itu. Entah kenapa tadi begitu tiba-tiba, terjadi begitu saja. Perasaan di Rina masih ada, tapi di Anggun ini apa namanya? Lagi-lagi, SMP masa yang rentan galau.

Rupanya si Adit itu telah menemukan pengganti si Rina, langsung, dia kan playboy. Aduh, tak kepikiran aku jadi orang yang kayak dia, kok bisa? Aku juga harus berenti suka’ sama Rina. Harus belajar dari Adit. Di sini banyak kok cewek yang manis, berjilbab, solehah. Jadi sebenarnya gampang lah buat move on. Toh ada Anggun. Aku juga sebenarnya lagi deket sama cewek anak kelas 9F, namanya Ayu. Dia cantik, baik, dan yang paling penting, dia juga suka’ sama aku. Aku curhat sama Ayu tentang Rina, tak tau lah apa yang dia rasain waktu aku curhat ke dia tentang Rina. Tapi Ayu adalah pendengar yang baik. Mungkin hatinya sakit, aku tak tau.

Ada juga cewek yang buat aku tertarik waktu itu, namanya Aini. Anak kelas 9I. Dia awalnya kelas 9G, waktu ada program perluasan kelas, dia dipindah. Tapi perasaan itu hanya rasa suka yang biasa. Karena dia manis, cantik, putih, tembem, berjilbab. Jadi suka’ aja ngeliatnya. Ya, itu tipe cewek aku. Tapi aku tak kenal dengannya. Malu aku berkenalan. Jadi lupakan.

Malam hari terasa sepi. Yang awalnya selalu ditemani Rina, sekarang dia sudah bersama Hadi. Aku teringat dengan Anggun. Kuambil HP. “Assalamu’alaikum. Anggun, gimana kabarnya?” ini sms pertama aku ke Anggun. Maaf, walaupun masa SMP masa yang dibilang Alaayy, tapi aku tak se-alay yang kalian kira. Aku nulis sms biasa aja kok.
“Wa’alaikumsalam, ini siapa ya?” tak lama Anggun menjawab sms itu.
“Ini kak Ferry, masi inget kan?”
“Ooohhh, kak Feeerrryyy, apa kabar kak? Anggun baik-baik aja! :D ” terlihat Anggun begitu senang menerima sms dariku. Bukannya kePD-an. Tapi keliatan kok dari caranya membalas sms. Ceria sekali.
Aku juga cerita semua tentang Rina ke Anggun. Dan dia mengatakan, “Aku ada disini kak, sama kakak, akan aku buat kakak ngelupain Rina.” Jawaban itu buat aku tenang. Senang bisa kenal dengan Anggun. Hari-hari menjadi lebih berwarna sejak kedekatan kami. Aku jadi bisa melupakan Rina, total bisa melupakannya. Aku suka sama Anggun. Aku gak mau kehilangan dia. Aku sudah menganggap seperti adik sendiri. Dia juga demikian, menganggapku seperti kakak kandungnya sendiri.
“Kak kita buat janji yuk?” Anggun mendengarkan sebuah lagu kepadaku. “Ini lagu kita kak.” Anggun tersenyum. Aku terdiam. Mendengarkan lagu itu. “Kakak janji ya bakalan selalu ada, ngejaga Anggun, janji ya” Anggun mengulurkan jari kelingkingnya tanda kesepakatan. “iya kakak janji dek.” Dia tersenyum lebar mendengarnya.
Janji itu masi teringat sampai saat ini. Setiap mendengar lagu itu, aku mengingat Anggun. Mengingat uluran jari kelingkingnya yang meminta kesepakatan.

Aku mendapatkan impianku, mendapatkan SMA 1 Mataram. Yang artinya aku harus pisah dengan Anggun. Tiga bulan masa kedekatan di bangku SMP dengan Anggun. Dan kini aku memulai dunia baru. Dunia SMA. Walaupun sudah berada di bangku SMA, hubungan aku dengannya lancar-lancar saja, komunikasi tak pernah putus. Bahkan kami sesekali pergi jalan-jalan berdua.

Dua bulan berlalu terjadi lost contact di antara kami. Entah kenapa aku berpikir ada yang berubah dari Anggun. Aku tak tahu apa penyebabnya. Hingga saat itu.
“Kak, Anggun capek, sakit hati sama seorang cowok.” Sms itu masuk ke HP-ku.
“Kenapa dek? Siapa?”
“Anggun mau pindah sekolah aja, Anggun mau ke Jakarta. Pindah ke sana.” Aku terkejut membaca sms itu. Tanpa menjawab sms itu aku menuju rumah Anggun untuk mencari kejelasannya langsung.
“Assalamu’alaikum, Anggun.” Lama menunggu pintu itu terbuka. “wa’alaikumsalam” itu bukan Anggun, itu Faras, kakaknya. Aku tau Faras tak setuju aku dekat dengan Anggun. Karena dia sahabatnya Ayu – kelas 9F juga, jadi dia menganggap aku akan mempermainkan adeknya. Raut wajahnya tak bersahabat, tapi dia berbaik hati memanggilkan Anggun untukku. “Anggun, ada Ferry tuh!”
Malam itu aku mendapatkan kejelasan yang membuatku terkejut. “Kak, Anggun capek nunggu.” Aku heran. “Anggun pengen denger kalimat itu dari kakak.” Tunggu dulu, aku semakin bertanya-tanya. Ini ada apa sebenarnya? “Ada apa dek?”, “Anggun suka sama kakak, Anggun mau jadi pacar kakak, Anggun mau denger kakak bilang cinta ke Anggun.” Aku terperanjat. Bagaimana tidak, seumur-umur baru Anggun yang mengungkapkan perasaannya langsung ke aku. Aku terdiam. Aku menatap matanya yang berkaca-kaca. Alisnya mengkerut. “Terus jadi mau pindah ke Jakarta? Cuma gara-gara itu?” aku berusaha tersenyum seolah mengajaknya ikut tersenyum juga. Kepalanya tertunduk dalam diam. “Dek, kakak gak mau pacaran sama Anggun, Anggun sudah kakak anggap sebagai adik kakak sendiri. Iya kakak suka juga sama Anggun, kakak akui itu, tapi kakak gak mau pacaran sama Anggun. Gak bisa dek. Maaf.” Anggun semakin terdiam. Dia mengangkat wajahnya. Dia tersenyum, meski air mata jatuh di pipinya. Itu senyum terakhir yang aku lihat. “Kakak pamit dek. Maaf ya.” Aku tak tau bagaimana perasaan Anggun waktu itu, yang jelas pasti sakit.
“Dek jangan nangis.” Aku berusaha tersenyum padanya. Dia membalas senyumku. Ya Allah apa yang aku perbuat malam ini. Malam terlihat gelap – meski umumnya malam memang gelap – tapi malam itu terasa lebih gelap dibanding biasanya. Aku pamit ke Anggun. Di tengah jalan terbayang terus senyum manisnya tadi. Apa aku menyesal? Sepertinya tidak. Jalanan itu terasa panjang dan lenggang.

Setelah kejadian itu, aku kembali lost contact dengannya. Sebulan berlalu dan aku mendengar kabar bahwa dia kini berpacaran, dengan seorang yang non-muslim. Saat itu aku benar-benar menyesal. Aku merasa tak sanggup menjaga adik sendiri, tak sanggup menjaganya. Kemana janji itu? Apa aku melanggarnya? Atau Anggun yang membuatku untuk melanggar janji itu?

Satu semester sudah berlalu. “Fer, ada kabar bagus.” Naufal – sahabat baikku – memanggil sambil menunjukkan sms yang ada di HP-nya. Aku cerita semua tentang Anggun padanya. Dia sahabat yang baik. Dari keluarga seorang hakim dan dokter. Tanpa semua sadari – termasuk dia – aku dan Naufal jatuh cinta dengan perempuan yang sama saat itu, teman sekelas kami. Perempuan yang familiar, tak asing bagiku. Tapi aku tak mau membahasnya disini. “Ada apa fal?” aku penasaran. “Anggun mau balik ke kamu katanya!” Balik? Aku heran. “Iya dia mau minta maaf ke kamu. Katanya dia ngerasa kehilangan kakaknya. Berita bagus bro!” tak kepalang tanggung senangnya aku saat itu. Itu adalah titik balik hubungan aku dengannya nyambung lagi.
“Kak, maaf ya, Anggun kehilangan kakak. Kakak masi inget kan sama janji kita? Terus terang Anggun sakit hati malam itu, mangkanya berpikir pendek dan mau pergi dari kakak. Anggun bohong bilang mau pindah ke jakarta, karena emang gak tahan.” Panjang lebar sms Anggun itu. Aku senang dia akhirnya mengerti. “Iya dek, gak apa-apa kok, kakak juga minta maaf ya.”

Sudah 3 tahun kedekatanku dengan Anggun tanpa ada perselisihan apapun. Hubungan yang adem-ayem. Kini aku berada di bangku kuliah. Masuk di Unram Fakultas MIPA jurusan Fisika. Anggun yang berusaha ingin masuk ke SMA 1 harus gagal dengan usahanya. Dia memang sedih. Tapi bukan Anggun namanya kalau larut dalam kesedihan. Dia sekarang di SMA 2 – Smanda, duduk di kelas 11. Sudah lama hubungan kakak-adik ini berjalan. Teman, hubungan adik-kakak ini cuma ada di Indonesia, tak tau lah seperti apa itu hubungan kakak-adik, tapi seperti inilah yang aku jalani dengan Anggun. Kalian yang ada di Indonesia pasti pernah mengalaminya juga.

Kemarin malam aku menelepon Anggun. Dia berceloteh, bercerita tentang masa SMA-nya di Smanda. Aku kangen mendengar suaranya, mendengar keceriaannya. Senang sekali bisa mendengar suara ribut itu. Ahahaha.. Tak terasa hidup ini berjalan begitu cepat. Anggun sudah memiliki dunianya bersama sahabat-sahabatnya. Janji itu tetap ada, dan tetap kami ingat. Malam itu terasa panjang, curhat-curhatan, ketawa bareng, saling olok-olokan. Walaupun hanya lewat telepon, tapi hangatnya terasa. Keceriaan Anggun yang dulu aku kenal sangat terlihat.
“Dek, tunggu dulu, coba denger deh.” Samar terdengar sebuah lagu terputar di radio yang berdiri di atas meja belajar krem di samping kasur. “Ini lagu kita.”

Memandang wajahmu cerah
Membuatku tersenyum senang
Indah dunia

Tentu saja kita pernah
Mengalami perbedaan
Kita lalui
Tapi aku merasa jatuh terlalu dalam
Cintamu…
Ku tak akan berubah
Ku tak ingi kau pergi
Slamanya
ku kan setia menjagamu
bersama dirimu,dirimu
sampai nanti akan slalu
bersama dirimu
Saat bersamamu kasih
Ku merasa bahagia
Dalam pelukmu
Ku tak akan berubah
Ku tak ingin kau pergi
Slamanya…
seperti yang kau katakan
kau akan slalu ada
menjaga, memeluk diriku
dengan cintamu

Teringat kembali janji itu, saat-saat itu, masa-masa kedekatan aku dengan Anggun di SMP dulu. Anggun, justru karena aku suka sama kamu mangkanya aku gak ingin berpacaran denganmu. Karena aku tak ingin berpisah denganmu mangkanya aku menolak malam itu. Kita masih SMP saat itu, masa paling labil di dunia. Masa yang rentan galau dan belum dewasa. Anak-anak SMP itu berpikiran pendek. Tak kan ada hubungan pacaran yang akan bertahan lama. Tak ada. Pasangan yang berpacaran, jika sudah putus, pasti ujung-ujungnya bermusuhan, gak saling sapaan, terus pisah deh. Tak ada kelanjutannya. Karena itu aku gak mau pacaran sama Anggun. Karena aku gak mau kehilangan dia.

Jika kamu menyukai seseorang, tak mesti mengaplikasikannya dengan sebuah hubungan pacaran. Simpanlah jika itu memang yang terbaik bagimu, kelak ungkapkan perasaan itu melalui janji suci jika sudah datang waktu yang tepat.

========================================================================
Karangan :

  • Firyal D. Haqqi

Facebook :

  • Firyal Dhiyaul Haqqi

========================================================================

Selasa, 06 Agustus 2013

Kado Terbaik Untukku DariNya

Prolog
Bismillahirrahmanirrahim
Bismillahirrahmanirrahim
Bismillahirrahmanirrahim
Allah Allah Allah
Yang Maha Pengasih Yang Maha Penyayang Yang Maha Mengabulkan Lagi Maha Bijaksana
Tunjukkan semua kekuasaanmu yang belum kami ketahui ya Allah
Kabulkan semua doa kami ya Allah
Hanya padamu kami memohon dan hanya padaMu kamu meminta
Dan hanya kepadaMu pula kami berserah diri



“Nggak, nggak mungkin itu semua nggak adil” kesal Arin
“Iya ini nggak mungkin terjadi, masak mereka yang seenaknya beli kunci bisa lulus dengan nilai yang baik, sedangkan kita…” kata Krish
“Apaka ini suatu hal yang buruk buat kita?” kata Ella
“Kita tak perlu menyesal dengan semua yang terjadi, mungkin justru ini awal yang baik buat kita” kataku
“Apa awal yang baik?, nilaimu anjlok sedangkan mereka yang nggak usaha siang malem, bisa dapet yang lebih baik dari kita, masih kamu bilang itu awal yang baik?” gertak Puput
Begitulah reaksi kita berlima setelah nilai UN di umumkan. Aku tertegun dalam keramaian melihat sorak sorai teman-teman menyambut kelulusan UN mereka dengan begitu senang. Mereka tampak senang, apakah sekarang Aku juga sama seperti mereka? Senang saat ini? Mungkinkah tidak?

Aku tak tahu bagimana raut orang tuaku saat mengetahui nilai-nilai UN nanti yang sedang-sedang ini, atau mungkin cukup miris jika dibandingkan dengan usaha orang tuaku yang siang malam bersusah payah untuk membayar seluruh kebutuhan sekolahku? Ya Allah, bagaimana raut Ibuku nanti? Akankah nanti Ia akan tersenyum menyambutku pulang meski nilaiku seperti ini? Apakah ia akan menerimaku? Bagaimana pula dengan Ayahku? Akankah Ia marah? Melihat Aku nanti? Rasanya Aku tak sanggup jika harus melihat kedua orang tuaku menitikkan air mata, entah itu di depan ataupun di belakangku. Sungguh Aku benar-benar tak sanggup, rasanya Aku menjadi anak yang tak tahu balas budi.

Aku tau ini bukanlah akhir dari segalanya, Ya Allah kuatkanlah hambaMu ini dalam menerima cobaan ini, juga teman-temanku. Kami memilih jujur meskipun kami tak tahu jika hasilnya akan seperti ini. Ya Allah jadikanlah kami hambaMu yang berpikir ke depan, dan yakinkanlah kepada Kami semua bahwa di balik semua ini pasti ada hikmahnya.



“Ibu maafkan Rina ya.. nilai Rina tak seperti yang Ibu harapkan” kataku dengan menunduk
Ibu hanya terdiam menatapku.
“Ibu Rina tau, mungkin Rina bukan anak yang baik, dengan nilai Rina yang tidak memuaskan hati Ibu, Rina minta maaf” kataku menahan air mata.
Ibu masih terdiam.
“Bu…” Aku tak sanggup berkata apapun di depannya.
“Tapi Rina mengerjakannya dengan jujur Bu… Rina juga sudah belajar Bu.. sudah solat malam, solat duha, tapi…”
“Tapi hasilnya tidak seperti yang kau harapkan begitu?” ucap Ibu memotong kalimatku
Aku hanya tertunduk.
“Sayang, Ibu tak mengharapkan seorang anak ibu ini menjadi perempuan yang pemalas, yang menjadi koruptor nantinya, pembohong, atau apapun lainnya yang tak pernah ibu harapkan” tandas Ibu.
“Lantas..?” Aku menatap Ibu dengan gugup
“Ibu mendidikmu dan selalu mendoakanmu supaya kau menjadi anak yang sholehah, pandai bersyukur, dan bersabar Nak, tentunnya menjadi seorang anak yang jujur” Ibu menatapku dengan lembut.
“Jjad.. ddii, Ii.. bbu tidak sedih?” kataku
“Tidak sayang, Ibu tidah sedih ia juga tidak marah kepadamu, tidak juga dengan Ayah” kata Ayah yang datang tiba-tiba seraya memeluk pungungku.
“Kami percaya padamu Nak.. kami tau kau tak mungkin mengotori nilaimu dengan prbuatan curang seperti itu bukan” kata Ayah dengan senyumnya yang khas.
“Kami justru bangga padamu.. kamu mampu melewati semuanya dengan menahan hawa nafsumu, nilaimu bersih” kata Ibu dengan hangat.
Aku terharu. Segera kupeluk mereka dengan sangat erat.
“Terimakasih Ayah.. Ibu..” kataku menangis haru.

Tiba-tiba terdengar bunyi bel dari arah kamarku.
KRinng… kring… kRing…
Aku berlari kekamar.
*Aku terbangun.
Jadi semua itu tadi hanya mimpi?
Lalu bagaimana dengan nilai hambaMu ini ya Allah… aku takut mimpi itu… mimpi itu… jadi kenyataan.
Aku segera berlari mengambil air wudhu untuk sholat tahajud, di sanalah Aku meluapkan semua isi hatiku kepadaNya, Hanya kepadaNya, dan berharap hari ini adalah awal yang baik untuk semua yang terbaik.



Pukul 14.00 WIB
Ayah belum pulang, Aku jadi semakin tegang. terbayang olehku akan semua mimpiku tadi malam dan tiba-tiba terdengar suara yang sudah lazim kudengar dari luar rumah..
“Assalamu’alaikum..” suara Ayah
“Wa-wa’alaikumsalam” kataku. Segera Aku keluar dari kamar dan menemuinya.
“Ayah.. bagaimana nilaiku? kataku gugup.
Terlintas bayangan dari akhir mimpiku tadi malam, oh.. seandainya mereka bahagia seperti di mimpi. Tapi aku tak berharap nilaiku seperti dalam mimpi itu. Aku masih berharap agar keadaan lebih baik dari mimpi itu.
Ayah menatapku dengan penuh keheranan.
“Tenanglah dulu” kata Ibu keluar dari kamar mandi.
Ayah duduk di sampingku. Aku menatapnya. Ia menatapku, lalu menatap Ibu. Kemudian menatap Aku lagi.
“Bu.. Ayah harap kamu jangan kaget melihat nilai anakmu ini” kata Ayah singkat.
Aku terdiam. Mungkinkah mimpi itu…
“Sungguh ayah tak menyangka Nak..” Katanya terputus
“Nilaimu.. nilai Sosiologimu sempurna dan yang lainnya juga bagus, jumlahnya 58″
“Oh Ayah…” kataku dengan senang seraya mencium tangannya berkali-kali
“Selamat ya Nak…” kata Ibu sambil memelukku.

Ya Allah terima kasih Ya allah, ternyata di balik ujianMu tersimpan kado terbaik untukku hari Ini. Jadikanlah hambaMu untuk tetap tetap dan selalu bersyukur.

#kita tak pernah tahu masa depan kita, namun aku percaya Akan ada akhir yang indah untuk semua yang baik, selagi kau percaya bahwa kekuataan doa dan Allah itu nyata.

——-

Aku melangkah ke kamar dengan senyuman puas. Tiba-tiba Aku teringat oleh para sahabatku yang masuk dalam mimpiku. Apa kabar mereka hari ini? Semoga mereka juga merasakan Apa yang Aku rasakan.

di layar HP: 4 pesan diterima.

pesan 1 dari Krish: Aku lulus. Kamu gimana?
pesan 2 dari Puput: Alhamdulillah nggak nyangka nilai bahasa Inggrisku bisa dapet 8. Ini sesuatu banget..!!
pesan 3 dari Ella: Yee…Lulus. senangnya hatiku prend… gimana nilaimu?
pesan 4 dari Arin: Teman Aku nggak lulus.

Deg!! begitu kira-kira reaksi jantungku melihat pesan terakhir. Ya Allah bag.. bagaimana mungkin Arin nggak lulus? dia kan pintar.. mengapa harus dia, mengapa harus sahabatku sendiri. Sekarang Aku harus bagaimana? Aku harus bales gimana? Apa yang harus aku lakukan untuk menghiburnya? Pasti dia sangat sedih di sana. Ya Allah.. kuatkanlah hatinya…

Tiba-tiba satu pesan di terima

pesan dari Arin : Teman aku memang nggak lulus. Kamu nggak usah sedih ya.. Aku sudah menerimanya dengan ikhlas. Karena Aku memang nggak lulus dengan nilai kebohongan, tapi Aku dan kalian semua lulus dengan nilai kejujuran :D Kaget? Ahahai berhasil ngerjain Si Rina :p

Oh, jadi gitu ceritanya? Si Arin bohongin Aku. gapapa deh, Alhamdulillah malah. Terima kasih Ya Rabb.

========================================================================
Karangan :

  • Bondan Ratnasari

Facebook :

  • Bondan Ratnasari

Blog :

========================================================================