Selamat Datang Di LENTERA CERPEN ,semoga cerpen yang ada di blog ini dapat bermanfaat bagi kalian dan SELAMAT MEMBACA
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Agustus 2013

Pelukan Terakhir

“buat hari ini, aku seneng bisa pergi bareng kamu, bareng mereka juga” melihat sepasang kekasih asik tiduran diatas pasir.
“sama-sama. emm ding?”
“iya,”
“kita bikin perjanjian yu?” usulnya
“perjanjian? perjanjain apa?” tanyaku
“aku tau kita enggak mungkin bareng-bareng buat saat ini, dan aku tau dia masih ngarepin kamu, dan aku enggak mungkin kaya gini terus, masih banyak waktu buat kita jalanin semuanya, aku enggak mau kalau kamu terus menderita untuk semua ini. Aku harap kita temukan yang lain, jika aku merasa cukup untuk mencari dan masih tidak menemukannya, aku yakin kamu adalah orang terahir untukku. Janji?” jelasnya
“aku memang lagi deket sih, tapi aku belum yakin sama dia. Aku tau ini akan menjadi berat, tapi aku janji sama kamu, karena aku ingin selalu bersama ” sambil tersenyum

Dari kejadian hari itu aku selalu ingat janji kita. tapi masalah mulai datang saat mantanku tau soal kita! dan akhirnya sahabat dan teman dekatku tau soal ini. seperti petir di siang hari semua terasa perih dan menyakitkan. aku tak bisa jalani ini tanpa dukungan dari dia.

Hari terasa berjalan sangat sangat lambat, kita masih komunikasi meski jarang tapi ini semua sudah biasa, aku selalu takut di saat dia bareng anak-anak terutama bareng mantanku, aku takut dia ceroboh dan membuat masalah itu muncul lagi. Beberapa bulan kemudian dia datang ke rumah dan seperti biasa kita ngobrol dan bercanda.
“aku mau bisikin sesuatu sama kamu”
“bisikin apa? engga mau ah,” candaku
“sini aku bisikin bentar,”
“engga mau, kamu pasti becanda”
“engga, sini deh!”
“kamu mau engga nikah sama aku?”
“hah? serius?” dengan nada terkejut dan sedikit meledek
“serius, aku mau kita nikah aja, biar aku bisa bareng kamu terus” sambil tertawa malu
“hehe, engga mau ah. kamu engga serius?”
“serius tau ih, tapi sekarang aku belum punya apa-apa, nanti aku bakalan sukses kok apalagi ada kamu” dengan senyumnya yang buat mata dia berbentuk huruf N he
“amien,” seneng banget dia bilang gitu, aku pengen jawab mau bangeettt?
“engga ada cincin yah?” dia senyum sambil pegang tangan aku, dan aku balas senyum dia.
Tiba-tiba dia nyuruh aku balik badan, dia lepasin kalung yang dia pake dan dia pakaikan di leherku. Aku deg-degan banget aku kira dia mau ngapain, seneng banget saat dia pakaikan kalung itu, aku Tanya kalau ibu nanyain kalung ini dia jawab apa? dia bilang tenang aja semua bisa diatur dan kembali tersenyum. pengen rasanya loncat-loncat dan teriak saking senengnya? Dia bilang cuma ini yang dia punya dan ini harus selalu aku pakai! pastinya aku akan selalu pakai kalung ini

Suatu hari, kampus ngadain turnamen futsal antar angkatan, waktu itu pertandingan antara angkatan ku lawan angkatan bawah. aku turun tangga mau ke lapang aku lihat dia lagi maen sama anak kecil, aku kira anak kecil itu anaknya bang riky alumni (dengan nama samara), tenyata anak kecil itu keponakan mantannya. kalau lihat dia bareng mantannya yang itu aku engga suka, aku pengen banget pulang tapi aku bertahan sampai ahir dan sebisa mungkin engga memperlihatkan kalau aku marah dengan main bareng keponakannya itu.

Pertandingan usai dan angkatan kitapun menang dengan skor yang memuaskan, tapi tidak dengan hati aku semakin menyayat dan semakin sesak saat lihat mereka bersama seperti keluarga ayah, ibu dan anak! rasanya ingin lari berteriak dan menangis!

Dari kejadian itu aku sakit, aku engga ngampus dan dia baru sadar kalau aku sakit malem-malem dia ke rumah buat mastiin aku engga apa-apa karena sms dari dia aku engga bales dan sms semua orangpun aku engga bales. pengen banget bilang ke dia kalau aku engga suka lihat dia kaya kemaren dan aku kecewa banget! tapi ada mamah aku malu..

Dia jelasin semua soal kemarin dia bareng mantannya. semua kembali seperti semula meski kita engga banyak bareng-bareng tapi dia masih suka maen ke rumah. hari itu aku kangen dia pake banget malahan, dan tiba-tiba dia datang ke rumah tanpa bilang dulu awalnya, penampilannya berbeda dari biasa dia terlihat rapih sangat-sangat rapih dan terlihat lebih bercahaya?

Kita ngobrol, bercanda seperti biasa, dan menghabiskan malam bersama, rasanya enggak pengen dia pulang, sebelum dia pulang tiba-tiba dia peluk aku erat banget, aku becandain dia aja.
“ding, aku sayang banget sama kamu. Maaf dan makasih” ucapnya
“ngomong apa sih? aku juga sayang kamu anyunn.”
Dia peluk aku lagi, aku hanya diam dan tak merasa ada yang aneh dengan sikap dan kata-katanya. Waktu sudah menunjukan jam 23.00 malam dia pamit pulang, cara dia jalan tuh beda tapi dia tetap ceria dan sempat becanda sebelum pulang. Dia parkirin motor sebelum pulang dia cium kening dan peluk aku lagi, pelukan itu terasa sangat hagat dan aku tidak ingin melepaskan pelukannya, ini yang buat aku aneh karena dia engga pernah lakuin ini sebelumnya.

Diapun pergi… Pintu gerbang belum aku gembok terdengar suara benturan benda yang sangat keras, aku langsung ingat dia dan berlari menuju jalan raya. Aku jalan perlahan memastikan bahwa itu bukan dia, saat melihat motor yang diparkir oleh bapak-bapak dan itu ternyata motor dia mulailah air mata keluar.
Perlahan aku dekati kerumunan itu dan aku terhentak saat melihat tubuhnya tergeletak di jalan dengan darah di sekujur tubuhnya. tidak banyak berkata aku hanya terdiam dan menangis?

Sudah tiga hari dia dirawat dan masih belum sadar juga, aku terus temenin dia tapi saat anak-anak besuk aku sembunyi, aku engga mau mereka liat aku dan berpikiran yang aneh-aneh soal kita.
Mamah engga marah soal ini, mamah tau dan ngertiin perasaan aku gimana, hapir semua waktuku aku habiskan menemaninya di rumah sakit, keluarganya ada disana, aku malu tapi rasa malu itu hilang karena kekhawatiranku lebih besar.

Akhirnya dia sadar semua menangis bahagia terutama ibu, dia tidak banyak bicara hanya melihat sekeliling. tak lama dia menanyakan surat yang ada di saku jaket yang dulu dipakai dan memberikannya kepadaku.
“ini surat buat kamu, maafin aku yah aku engga bisa tepatin janji aku, aku sering buat kamu marah, buat kamu sakit hati sering juga buat kamu nangis. Aku sayang kamu ding”
“kamu enggak boleh bilang gitu, kamu udah janjikan! aku tau kamu pasti bisa nepatin janji kamu.”
“ibu, kaka minta maaf selama ini kaka sering buat ibu kesel, nyusahin ibu, selalu buat ibu khawatir. kaka sayang banget sama ibu.”
“kamu jangan banyak bicara dulu kamu baru sadar harus banyak istirahat, ibu juga sayang kamu nak.!” Mengusap dan mencium kening
“iya bu, kaka juga mau istirahat ko.” memejamkan mata, dan itu adalah kata-kata terakhir sebelum dia menghembuskan nafas terahir, semua menangis haru terlebih aku dan ibu, aku mencoba tegar dan kuat menerima semua ini.

Setahun berlalu setelah kepergian dia, enggak ada lagi yang bangunin tiap pagi dan nyuruh solat “bagun, solat cantik”, pangilan sayang dia “oding” dan enggak ada lagi yang ngucapin kata sebelum aku tidur “Gnight oding, nice dreams” dan enggak ada lagi yang nyanyiin lagu, ceritain cerita kalau aku susah tidur? aku selalu mengunjungi makamnya tiap kali aku ingat dan aku kangen dia.

Kita enggak tau apa yang akan terjadi pada kita saat ini atau nanti. Semua sudah Tuhan atur, dan ini jalan yang Tuhan kasih buat kita. Cinta memang tak selama harus memiliki dan tak selamanya harus bersama. Tapi aku cinta kamu selamanya, kita pasti akan bertemu di kemudian hari.
Idam aku kangen kamu, kangen becandaan kamu, aku kangen semua yang sering kita lakukan? Saranghae Idam :*

========================================================================
Karangan :
  • Agistyaneu P Oskar

Blog :

========================================================================

Jumat, 02 Agustus 2013

Aku Sebutir Pasir

Di tengah teriknya hawa siang. Di tengah luasnya gurun menghampar. Di tengah tingginya langit menjulang, sebutir pasir tengah berdiri. Sendirian. Mengapa? Tentu saja. Dia adalah sebutir. Hanya sebutir. Walaupun dia memang sedikit tak benar disebut sebutir, tapi apakah pantas disebut seorang pasir?

Pandangannya menegadah ke atas langit. Kakinya menapak di atas gurun. Tubuhnya berdiri di atas siang. Matanya tak sama sekali silau melihat matahari yang sedang terik-teriknya. Kakinya tak sama merasa panas dan sakit. Tubuhnya pun tak merasakan haus atau lapar. Dia kini hanya bisa memandang langit sambil menitikan satu tetes air mata.

Pasir namanya. Gadis yang tak pantas disebut kecil itu tengah berdiri di antara ribuan pasir yang terbaring luas. Entah mengapa orangtuanya menamai gadis itu Pasir. Entah ada maksud apa dalam penamaannya. Tapi sekarang dia malah berdiri seorang diri tanpa seorang pun menemani. Entah di mana orangtuanya yang telah memberi nama Pasir pada dia. Entah masih ada atau pun tidak. Tapi mengapa gadis itu sekarang begitu tampak kucel dan kotor. Dia hanya sebatang kara berdiri di sana. Mungkin dengan bayangannya.

“Pasir.” Desah seorang pria berbaju putih dan terlihat sangat rapi.

Sebutir Pasir itu pun mendongak dan menatap pria tadi yang memanggilnya. Matanya mengamati tiap bagian di tubuh sang pria.

“Pasir. Namamu aneh!”

“Kau siapa?” Pasir mulai mengeluarkan sepenggal kata dari mulutnya.
Pria bergamis putih itu tersenyum.

“Mengapa orangtuamu memberi nama Pasir?”

“Bukan mereka. Aku yang menamai diriku Pasir.” Bantahnya.
Pria tadi tersenyum kembali.

“Lantas mengapa kau ingin nama itu?”

“Kau mungkin tahu berapa banyak pasir di sini?”

Pria itu menggeleng.

“Aku tidak tahu. Apakah perlu aku menghitungnya?”

“Sudah kuduga. Tak ada seorang pun yang bisa mengetahuinya.”

“Tak ada? Bagaimana dengan Tuhan? Apakah Dia juga tak tahu? Bukankah Dia yang telah menciptakan pasir di gurun ini?”

“Ya mungkin. Kecuali Tuhan.” Ujar Pasir.
Pria bersorban itu tersenyum kembali.

“Lantas, apa maksudmu menamai dirimu Pasir?”

“Di sini aku melihat banyak pasir. Dan sungguh ironis sekali hanya ada sebutir pasir di gurun ini. Dan itulah aku. Aku sangat ironis. Sebutir Pasir. Dan aku juga berfikir bahwa tak akan ada sebutir pasir, pasir yang sendirian. Tak ada kawan dalam hidupnya. Pasir pasti selalu berkumpul dengan pasir-pasir lainnya.”

“Lekas, mengapa kau menyebut dirimu sebutir pasir?”

“Ya karena itu. Aku sendirian. Aku tak punya kawan. Aku sangat ironis.”

“Lantas mengapa kau tak bergabung dengan pasir-pasir lainnya agar bisa menjadi gurun?”

Pasir terdiam. Dia tak bisa mengeluarkan sepenggal kata pun. Mulutnya terkunci rapat. Air matanya dia tahan agar tak pernah keluar.

“Coba kau pikirkan! Tak pernah ada satu pun orang yang mau sekedar bertanya padaku. Tak ada satu pun orang yang peduli terhadapku! Apakah aku bisa bergabung dengan mereka dan menjadi sebuah gurun?”

“Apakah aku bukan seseorang yang peduli padamu? Apakah aku bukan seseorang yang bertanya pada dirimu, Pasir?” Jawabnya tenang.

Pasir kembali terdiam. Kata-kata pria tadi seolah menusuk tajam di dalam hatinya. Namun dari wajah pria itu tak nampak sedikit pun tersirat kecurangan. Wajahnya suci dan bersih. Tak ada setitik noda dosa tersirat dalam hatinya.

“Ya mungkin. Hanya kau yang mau bertanya padaku.”

“Selain aku, bayanganmu juga masih setia bersamamu. Dia selalu mengikutimu ke mana pun kau pergi. Tapi memang, ada kalanya bayanganmu itu pergi meninggalkan tubuhmu.”

“Kapan?”

“Di saat gelap. Tak ada setitik cahaya pun menerangimu. Dan saat itu tak akan ada siapa pun yang menemanimu.”

“Lalu aku harus bagaimana?”

“Mendekatlah pada Tuhan! Sadarilah perbuatanmu itu salah!”

“Aku tak punya Tuhan. Aku tak punya teman. Aku tak punya segalanya.”

“Maka dari itu, dekatilah mereka. Jika kau ingin mengenal Tuhan, dekatilah Tuhan. Jika kau ingin punya teman, dekatilah mereka. Jangan hidup sebutir sepertimu ini. Jangan sia-siakan waktu dengan menyendiri seperti ini.”

“Tak apa. Ini hidupku. Jalan mana pun yang aku pilih, biarkan. Kau tak berhak untuk mengatur apa yang kulakukan dalam hidupku. Hidupku terserah diriku.”

“Memang benar. Tapi apakah aku akan membiarkan seseorang yang tersesat di jalan yang salah untuk tetap berjalan? Tentu tidak. Aku tak akan membiarkannya. Aku harus membenarkannya.”

“Kau siapa diriku? Sebegitu pedulikah kau tentangku?”

“Aku mencintaimu karena Allah. Maka dari itu aku peduli terhadapmu.”

“Siapa dirimu?”

“Aku adalah sebilah kayu.”

“Lekas mengapa dirimu menyebut diri sendiri kayu? Mengapa kau menurutiku sebagai sebutir pasir?”

“Jika kau pasir, aku adalah kayu. Kau mungkin tahu apa gunanya kayu. Kayu berawal dari sebatang pohon. Dan kau mungkin tahu, seberapa berguna pohon bagi dirimu. Apalagi di tengah padang pasir seperti ini. Setelah pohon tersebut ditebang, pasti mereka banyak digunakan. Kayu bisa dibuat meja, kursi dan mungkin sebagai bahan bangunan. Seperti untuk rumah. Kayu juga sangat kokoh. Kayu tak mudah patah. Maka dari itu, aku menyebut diriku kayu. Karena aku ingin menjadi seperti kayu. Walaupun masih jauh sesempurna itu.”

“Mengapa tidak besi saja? Besi lebih kokoh daripada kayu. ”

“Ya. Kau benar, Pasir. Besi lebih kokoh dari kayu. Namun asalkan dirimu tahu, besi melambangkan seseorang yang tangguh namun sombong. Maka dari itu, aku tak akan meniru besi.”

Pasir kembali terdiam. Otaknya dia buat bekerja. Dia memikirkan sesuatu yang mungkin tak pernah bisa dijawab oleh pria itu. Pandangannya menatap ke atas.

“Bagaimana caranya aku mengenal Tuhan?” Tanya Pasir polos.

“Kau bisa belajar dari orang lain.”

“Apakah kau bisa mengajariku?”

“Aku tak punya banyak waktu.”

“Bukankah kayu itu sangat berguna. Pasir itu tak pernah berguna. Untuk apa juga aku mengenal Tuhan.”

“Ish, kau jangan bilang sembarangan.” Tegur pria itu lembut.

“Sebutir pasir memang tak akan berguna jika hanya sebutir. Jika kau bergabung dengan pasir lain, dengan semen, besi, batu, kayu dan air. Kau bisa menjadi sebuah gedung.”

“Kebersamaan?”

“Ya benar. Umat muslim itu seperti sebuah bangunan yang saling menguatkan. Jika kau sebutir pasir, dan banyak lagi pasir sepertimu, bergabunglah dengan mereka. Setelah itu, carilah orang lain. Seperti besi, kayu, air, semen, batu. Dan bersatulah. Maka kalian akan menjadi sebuah gedung yang kokoh.”

“Jadi aku tak boleh menyendiri?”

“Benar sekali. Kau hanya bisa menjadi sebutir pasir di hadapan Tuhan-Mu. Allah. Kau hanya sebutir pasir di hadapan-Nya. Dan jangan pernah menjadi lagi sebutir pasir di hadapan para manusia-manusia itu. Bergabunglah dan menjadi padang. Bergabunglah dan menjadi gedung.”

“Lalu bagaimana diriku mengenal Tuhan? Allah. Dari siapa aku akan belajar?”

“Kau bisa belajar dari siapa pun yang memiliki ilmu. Ilmu tauhid. Sedari dulu kamu memang selalu berjalan di kesesatan. Maka dari itu, sekarang kau sadari dan segera beralih ke jalan yang benar. Segeralah bergabung dengan orang-orang itu.”

“Tapi apakah mereka akan menerimaku?” Tanya Pasir polos.
Pria itu tersenyum lagi.

“Tentu saja. Mereka adalah orang baik. Lebih baik dari yang kau pikirkan.”

“Jadi sekarang aku harus ke kota itu?”

“Ya. Pergilah. Dan ingat, kau sebutir pasir di hadapan Tuhan. Maka jangan melampaui batas. Tapi kau sama seperti manusia derajatnya di sini. Kau tak pantas sendirian. Kau tak pantas sebutir saja. Di tengah gurun pasir luas seperti ini, sama seperti orang bodoh. Kau masih muda. Jangan sia-siakan waktumu. Masih banyak orang-orang di sana yang sangat membutuhkan waktunya untuk hidup. Maka dari itu, bertakwalah. Dan jalin silaturahmi. Perbaikilah amalanmu. Jangan hidup di tengah kesendirian dan kebimbangan.”

Pasir pun tersenyum. Pria tadi ikut tersenyum. Pria itu pun melangkah menjauh dari Pasir. Pasir menatapnya heran.

“Kau mau ke mana?”

“Masih banyak urusan yang harus kukerjakan. Sebaiknya kau bergabung dengan orang-orang di sana. Mereka pasti menerimamu dengan baik.”

Pasir mengangguk.

Di tengah teriknya hawa siang. Di tengah luasnya gurun menghampar. Di tengah tingginya langit menjulang, sebutir pasir tengah berdiri. Sendirian. Mengapa? Tentu saja. Dia adalah sebutir. Hanya sebutir. Walaupun dia memang sedikit tak benar disebut sebutir, tapi apakah pantas disebut seorang pasir?

Pandangannya menegadah ke atas langit. Kakinya menapak di atas gurun. Tubuhnya berdiri di atas siang. Matanya tak sama sekali silau melihat matahari yang sedang terik-teriknya. Kakinya tak sama sekali merasa panas dan sakit. Tubuhnya pun tak merasakan haus atau lapar. Dia kini hanya bisa memandang langit sambil menitikan satu tetes air mata. “Ya Allah, Tuhanku. Terima kasih Engkau telah menyadarkanku dari kebodohan ini. Seharusnya aku tak hidup seperti ini. Hanya karena kedua orangtuaku meninggal, aku sudah tak ingat dan kenal pada-Mu. Aku sudah tak punya semangat hidup. Ampuni aku Ya Allah. Sekarang aku berjanji, tak akan ada lagi sebutir pasir di hidupku, kecuali ketika menghadap pada-Mu. Ya Rabb yang Maha Agung.”

Satu tetes air mata keluara dari pelupuk matanya. Bukan kesedihan. Melainkan kebahagiaan. Kini Pasir sudah tak jadi sebutir lagi. Dia akan pergi berkelana mencari teman dan lebih mempelajari tentang Rabb-Nya. Dia mungkin tak akan menjadi sebutir pasir, kecuali di hadapan-Nya. Sang Rabb pencipta.
=======================================================================
Karangan : 
  • Selmi Fiqhi
Blog : 
Facebook : 
Twitter : 
  • @SelmiFiqhi
=======================================================================

Arti Kehidupan

Jalanan malam ini sangat ramai, namun tak mengurangi keinginanku untuk menambah kecepatan memacu kendaraan ini. Pikiranku mulai merancu tanpa kendali. Aku mulai muak dengan kehidupanku saat ini. Bila ada orang yang mau bertukar kehidupan denganku, aku akan dengan senang hati menerimanya. Bukan karena aku tak menghargai kehidupanku saat ini, namun bagaimana lagi? Aku sudah bosan hidup seperti ini.

Lampu merah mulai menyala, aku sandarkan tubuhku di jok mobil. Tapi, belum sempat aku memejamkan mata untuk sejenak, aku mendengar samar-samar suara beberapa anak kecil yang bernyanyi. Aku membuka kaca mobil, dan memberi mereka satu lembar uang lima puluh ribuan. Tampak sekali kalau mereka senang. Aku memperhatikan itu. Mereka bersorak senang dan tampak berlari menuju ke tempat yang aku tak tahu tempat itu. Aku terus memeperhatikan mereka, hingga tak kusadari bahwa lampu traffic light sudah berubah menjadi hijau.


Esoknya, aku menuju ke tempat anak-anak jalanan kemarin. Aku tepikan mobilku di tempat anak-anak jalanan beraksi mencari uang. Aku terus mengamati mereka dari tempatku menepi. Kulihat mereka sangat menikmatinya, meski harus melawan teriknya matahari kala itu. Seketika aku melihat mereka berjalan beriringan ke gang kecil. Aku turun dari mobil setelah sebelumnya aku memarkirkannya ke tempat yang menurutku cukup aman.

Aku mengikuti mereka diam-diam. Terlihat mereka berjalan sambil bersenda gurau satu sama lain. Mereka berhenti dan masuk ke dalam rumah yang menurutku cukup sempit bila dihuni oleh orang sebanyak mereka. Aku tetap mengikuti mereka. Dan aku terkejut! Ternyata tidak hanya mereka saja yang tinggal di sini. Namun, masih banyak anak lain di sini.

“Hei” aku terlonjak saat mendapati sebuah tangan menepuk bahuku. Ku putar badan menghadap ke arahnya. Terlihat pemuda seumuran denganku berdiri tegap di hadapanku.

“Hei” jawabku sedikit gugup.

“Ada perlu apa ke sini?” tanyanya ramah.

“Aku.. aku.. mau.. lihat.. lihat.. saja” aku masih gugup.

“Ah, ayo aku antar kalau kamu mau lihat-lihat!” aku mengangguk sembari mengikutinya. Banyak anak yang menyambutku ramah.

“Ini rumah kami. Di sini bisa dibilang tempat penampungan untuk kami, anak jalanan. Ayo, aku antarkan kamu menemui pengasuh di sini.” Aku masih tetap mengikutinya. Diam-diam, aku berdecak kagum oleh orang-orang di sini. Mereka tetap tersenyum meski dalam keadaan kekurangan.

“Bu, ini ada yang ingin bertemu ibu” pemuda itu berujar sembari menunjukku.

“Mana, Res?” ibu itu terlihat meraba-raba sesuatu. Pemuda itu meraih tangan ibu itu dan membantu mengulurkannya ke arahku.

“Saya Arya, Bu!” ucapku sambil menerima uluran tangannya.

“Ya, maaf saya tak bisa melihatmu. Res, temani dia dulu ya! Ibu mau menidurkan Kanya dulu” ibu itu bangkit dan berjalan sambil meraba-raba tembok di dekatnya. Astaga! Aku tertegun, baru kusadari bahwa ibu pengurus panti itu buta!

“Aku akan mengenalkanmu pada anak-anak lainnya di sini. Ayo ikut aku” aku hanya mengangguk. Ia mengantarkanku ke kamar yang tidak terlalu besar. Di sana anak-anak sedang belajar.

“Mereka masih baru di sini. Kamu lihat anak yang sedang menggambar di ujung sana? Namanya Reva, dia bercita-cita menjadi pelukis terkenal. Namun, kekurangan membuat cita-citanya terbengkalai. Ia tak mempunyai biaya untuk memenuhi satu syarat..”

“Untuk?” potongku cepat.

“Dia ingin sekali mengikuti lomba menggambar di salah satu mall terbesar di kota ini. Namun, ia tak punya uang untuk membayar administrasinya. Kami ingin membantu, namun kami juga tak mempunyai itu.”

“Kamu juga lihat kan anak yang sedang memainkan harmonika itu? Namanya Rika, kemarin ia ditolak oleh salah satu panitia lomba, karena dia memakai kursi roda,” ya, aku menyadari itu. Rika duduk di kursi roda.
Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. Aku dan pemuda yang kuketahui bernama Restu itu berbalik, mendapati seorang anak laki-laki tengah memegang secarik kertas. Restu menunduk menyamakan tingginya dengan anak itu. Akupun melakukan hal yang sama.

“Kenapa, dek?” Restu bertanya sambil mengelus puncak kepala anak itu lembut.

“…” anak itu tak menjawab, melainkan mengibar-ibarkan kertas yang digenggamnya tadi. Restu menerimanya kemudian membaca surat itu. Kemudian Restu memberikannya kepadaku.

“Festival menyanyi tingkat Kabupaten” aku mengeja kata-kata di kertas itu. Aku melihat anak itu mengangguk-angguk semangat.

“Kenapa enggak ikut aja?” tanyaku bingung. Adik kecil itu terlihat menunduk, raut wajahnya sedih.

“Kenapa?” tanyaku lirih.

“Dia enggak bisa bicara” jelas Restu pelan. Aku tersentak. Adik kecil itu berlari menjauh dari kami.

“Maaf” ucapku menyesal.

“Ya, sekarang kamu tahu kan? Mereka memiliki kekurangan masing-masing, namun mereka tetap berusaha, enggak menyerah pada nasib. Mereka tetap melanjutkan hidupnya tanpa ada niatan untuk mengakhirinya” ucapan Restu itu telak mengenai ulu hatiku. Aku merasa tersindir akan pengakuannya. Dan kehidupan di sini telah mengajarkan aku apa itu arti kehidupan.

“Ehm, makasih kamu sudah ngasih aku arah” ucapku sambil tersenyum.

“Maksud kamu?” Restu bertanya dengan wajah bingung.

“Ya, sebenarnya aku itu mau kabur dari rumah. Aku sudah enggak tahan dengan kehidupanku di sana. Di sana aku merasa seperti tinggal di neraka. Aku benar-benar enggak kuat menghadapi itu. Tapi, berkat kamu sudah ngenalin aku sama anak-anak yang kuat di sana, aku jadi yakin bahwa keinginanku untuk keluar dari rumah itu salah. Makasih banget ya” aku tersenyum lebar, yang juga dibalas Restu dengan senyuman.

“Kalau aku lihat dari penampilanmu, kamu anak orang kaya ya?” tanya Restu.

“Ya, bisa dibilang begitu, namun bagiku kaya harta tapi miskin kasih sayang sama saja kan? Orang tuaku sibuk dengan dunianya sendiri. Bahkan untuk menemaniku sarapan saja mereka tak ada waktu untuk itu. Maka dari itu, aku memutuskan untuk kabur dari rumah. Ditambah ternyata teman-temanku selama ini hanya memanfaatkanku saja. Mereka mendekatiku karena mereka pikir aku akan membayari mereka kencan dengan pacar-pacar mereka. Sekarang aku sudah sadar, betapa pentingnya kasih sayang itu. Bagaimana indahnya ketulusan itu. Dan sekarang, ijinkan aku membantu panti ini” jelasku panjang lebar.


Aku tersenyum senang. Kemarin malam, saat aku pulang dari panti yang kuketahui bernama ‘Cahaya Kasih’, kedua orang tuaku pulang dan meminta maaf. Teman-temanku juga begitu. Mereka minta maaf akan kesalahan mereka selama ini. Dengan tersenyum, aku memaafkan mereka.

Sekarang, aku sedang berdiri di depan panti. Aku bersyukur bisa membuat mereka semua tertawa senang. Saat ini aku tengah menyumbangkan barang-barang yang sekiranya dibutuhkan oleh mereka.

“Kak” suara seseorang membuyarkan lamunanku.

“Kenapa, Dek?” aku mengelus puncak kepala Reva. Reva malah membalasnya dengan tersenyum.

“Aku menang lomba, Kak!” serunya senang. Aku hanya tersenyum. Ya, kemarin sepulang dari sini, aku mendaftarkannya ke perlombaan lukis itu. Dan kemarin, aku juga memohon kepada panitia lomba musik, agar Rika bisa mengikuti lomba itu tanpa mengenal fisiknya. Ternyata permohonanku dikabulkan panitia dan saat ini Rika sedang mengikuti perlombaan itu. Saat ini aku bisa lebih menghargai kehidupan. Dan aku berjanji, tak akan mengulangi kesalahanku yang dulu-dulu lagi.

========================================================================
Karangan:
  • Hach Dhini Sekarwangi
Facebook: 
  • Dhini Sekar
========================================================================