Selamat Datang Di LENTERA CERPEN ,semoga cerpen yang ada di blog ini dapat bermanfaat bagi kalian dan SELAMAT MEMBACA
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Anak. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Agustus 2013

Kerumah Presiden

Adik perempuanku selalu belajar dengan rajin. Ingin bertemu Presiden, katanya. Walaupun baru kelas III SD, setiap aku bangun pagi buta untuk belajar, Adik ngotot ingin belajar juga. Ketika aku tidak membangunkan karena tidak tega mengganggu tidur pulasnya, Adik malah marah besar bahkan disertai isak tangis. Entah apa motifnya. Karena ingin menyaingiku atau mungkin kata-kata Ayah yang telah memacu semangatnya.

Waktu itu, satu tahun yang lalu saat Ayah baru pulang kerja. Seperti biasa, Ibu, Aku dan Adik menunggu Ayah tercinta di ruang tengah sambil nonton TV bersama. Saat Ayah memasuki ruangan, kami menyambut dengan bergantian menceritakan apa yang kami lakukan seharian itu.
“Yah… tadi Kakak ketemu Bapak gubernur, Kakak juga bisa salim* sama foto-foto…” Senyum bangga Ayah membuatku yang meskipun telah memasuki kelas I SMA, semakin manja.
“Eh iya, Kakak menang apa?” Tanya Ayah ramah.
“Lomba Karya Tulis Ilmiah, Yah… Tingkat Provinsi… Seneng deh bisa ngobrol sama Bapak Gubernur langsung, nggak cuma lihat dari TV…” Jawabku ria.
“Wah, Kakak memang juara, hebat!” Puji dari Ayah.
“Adik juga bisa kan, Yah? Ketemu Bapak Presiden malahan!” Celetukan Adik sering membuatku geli.
“Mimpi…” Gurauku menggoda Adik.
“Siapa bilang. Adik bisa kok. Orang biasa menegur sapa karena apa? Karena kenal kan? Begitu juga dengan Presiden. Adik bisa bertemu dengan Presiden, kalau Presiden mengenal Adik. Presiden akan mengenal Adik, kalau Adik memperkenalkan diri. Karena itu, Adik harus belajar dengan rajin. Supaya bisa mengenalkan diri ke Presiden melalui prestasi-prestasi yang berhasil Adik raih. Oke, Sayang…” Sambil mengelus rambut Adik, Ayah selalu bisa menjawab pertanyaan Adik dengan bijak.

Sejak malam itu, perubahan Adik sangat drastis. Semakin giat belajar. Semangatnya begitu menggebu sampai membuat Ibu cemas. Hem, bertemu presiden? Mungkin tidak ya? Untuk bertemu Walikota yang tetangga satu perumahan saja susahnya minta ampun, apalagi bertemu Presiden…
Tapi, kata menyerah tidak tersirat sedikitpun di wajah Adik. Adik tetap belajar dan belajar. Nilai akademiknya pun melonjak. Bakat menjadi mayoret drum band di SDnya juga terasah dengan baik. Berbagai kejuaraan mulai dari lomba antar sekolah, karnaval 17 Agustus, peringatan HUT kota, sampai HUT Bhayangkara disabet grupnya. Adik berambisi mencetak prestasi yang membuat Presiden menoleh padanya.

Melihat kesungguhan Adik, Ayah mempunyai rencana. Liburan sekolah kali ini, keluarga kami pergi ke suatu tempat yang Ayah rahasiakan. Di sepanjang jalan, Adik memandangi pepohonan yang bergerak berlawanan arah malalui kaca mobil hasil kerja keras Ayah. Adik nampak heran, kemana mobil yang dikendarai Ayah ini akan berhenti.
“Kita mau kemana sih, Yah?” Di puncak keingin tahuannya, Adik bertanya.
“Ke rumah Presiden” Jawab ayah singkat.
“Yang bener, Yah?” Timpalku tak percaya.
“Lho, masak bohong?” Ayah balik Tanya untuk meyakinkan.
“Horreee…” Sorak Adik bahagia.

Akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Banyak dipajang foto, semerbak wangi bunga dan kerumunan orang, pasti itu kesan pertama Adik. Ayah mengajak kami duduk, kemudian dua buku kecil dipindah tangankan kepadaku dan Adik. Ayah mencium kening kami berdua, membuat rasa sayangku semakin melimpah. Tak lama setelah itu, Ayah membelai rambut Adik.
“Sayang, disini raga soseorang yang dulu pernah menjadi Presiden dimakamkan. Adik harusnya senang bisa berkunjung ke rumah terakhirnya dan bisa mendo’akannya. Ayah senang tahu Adik belajarnya sungguh-sungguh, tapi kalau berlebihan juga tidak baik. Adik mengerti kan?” Pelan-pelan Ayah menjelaskan maksudnya.
Anggukan Adik menjawab pertanyaan Ayah. Bersama-sama, kami membuka buku Yasin dan Tahlil yang Ayah berikan. Ayah memimpin kami berdo’a. Ibu, Aku, dan Adik dengan khusyu’ mendo’akan mantan Presiden yang pernah berjasa untuk negeri ini.
Sesampainya kembali di mobil, Adik menghampiri Ayah.
“Jadi baru bisa ke rumah Presiden kalau Presidennya sudah wafat ya, Ayah?” Kali ini Ayah bingung menjawab pertanyaan polos Adikku.

*mencium tangan dalam silaturrahmi Islam

========================================================================
Karangan :

  • Miga Imaniyati

Facebook :

  • Miga Imaniyati
========================================================================

Sabtu, 03 Agustus 2013

Terima Kasih Sahabatku

Halo! Namaku Eryka. Aku adalah anak yang termasuk pintar. Tapi aku nggak jago melukis. Padahal, aku pingin banget ikut lomba melukis.

“Son, kamu enak ya, jago melukis.” Kataku kepada Sonya, sahabatku. “Lho, kamu lebih enak! Semuanya jago, kecuali melukis. Lebih enak kamu tau dari aku!” Seru Sonya. “Iya juga sih…” Kataku malu.

“Er, Mau aku ajarin melukis gak?” Tawar Sonya. “Yang bener?” Seruku kaget. Sonya mengangguk kepalanya. “So pasti! Besok bisa?” Tanyaku. “Hmm… Kebetulan gak ada acara sih. Oke deh!” Seru Sonya.

Aku gembira sekali. Aku senang punya teman seperti Sonya. Aku tidak sabar untuk hari esok. Malah, aku udah nyiapin buku gambar, pensil, penghapus, dan krayon dari hari ini.

Hari ini, aku berlatih melukis. Pertama aku diajari untuk menggambar mahluk hidup. Manusia, kepalanya harus alami. Biarpun imajinasi, harus tetap alami. Lalu aku diajarkan menggambar tentang alam. Barulah aku diajarkan mewarnai. Untuk campuran warna, harus tepat digunakan, agar terlihat bagus.

“Sonya, makasih banyak ya. Udah ngajarin aku.” Kataku kepada Sonya. “Ah, nggak usah berterima kasih, Eryka. Sesama teman kan harus membantu.” Jawab Sonya. “Ya, kamu betul. Oke deh, sampai jumpa besok ya!” Seruku. “Dadah Eryka! Sering-sering mampir ya!” Katanya sambil melambaikan tangan.

Saat sekolah, aku mendaftarkan diri untuk ikut lomba mewarnai. Aku yakin, aku pasti bisa! Papa, mama, dan Sonya menyemangatkanku. Aku semakin yakin.

Hari lomba pun tiba. Delapan puluh persen aku yakin menang, dua puluh persen aku tidak yakin, hehehe.

Aku menggambar tentang anak perempuan dan anak laki-laki berjabat tangan dan melihat alam yang indah. Aku yakin tapi tidak sombong.

Saat Mr.Joseph, guru melukis membacakan pengumuman pemenang, ternyata aku juara satu lho! Aku sangat senang. Saat lomba usai, Sonya menghampiriku. “Eryka, selamat ya!” Seru Sonya. “Makasih ya Sonya!” Seruku. Sungguh, pengalaman yang berkesan buatku.

========================================================================
Karangan : 
  • Develyne de Meichella
Facebook :
========================================================================

Jumat, 02 Agustus 2013

Peri Tak Bersayap

Hai, nama ku Peri Tira. Aku seorang Peri. Aku mempunyai sahabat bernama Peri Caysie. Dia baik, pintar, ramah.

Aku tak tahu mengapa, karena hanya aku saja yang tak bersayap. Kemudian aku pun bertanya kepada Peri Warney, Peri terpintar di Hcosei, tempat tinggal para peri.

Katanya, aku peri yang istimewa. “Apa nya yang istimewa?” Tanyaku pada Peri Warney. “aku saja tidak mempunyai sayap” sambungku. “Kau bisa lakukan apa yang kami tak bisa.” Kata peri Warney. “Apa contohnya?” Tanya Peri Tira. “Kau sangat pintar.” Kata peri Warney. “Benarkah?” Tanya Peri Tira kembali. “ya kau anak yang paling disiplin di Hcosei” kata peri Tita yang kebetulan lewat dan mendengar percakapan mereka berdua. “Kaulah yang akan menjadi Ratu”. kata peri Warney. “Kalau begitu, Aku ingin sayap sekarang juga!” Kata Peri Tira.

“Kalau kau mau sayap, kau harus ke lembah Whritthiy untuk mengambil sayapmu yang telah lama hilang. Namun engkau harus mendaki 8 gunung yang sangat tinggi, melewati sungai api yang sangat panas, dan melewati gua Raksasa merah setelah melewati semuanya kau akan menemukan sayap berwarna pelangi dan bila kau memakainya kau akan menjadi Ratu.” Jelas Peri Warney panjang lebar.

“Kau saja yang pergi! Sekarang, aku sudah akan menjadi ratu!” Kataku memerintah. “Seenaknya saja kau memerintah asal kau tau Peri yang tidak mempunyai sayap tidak boleh menjadi Ratu” kata Peri Warney marah. “Baiklah… Apakah aku boleh meminjam sayapmu?” Tanyaku pada peri Warney. “Tidak. Karena sayap para Peri jika sudah di pasang tidak bisa di lepaskan kembali” kata Peri Warney. “Hmm… Apakah aku bisa membuat sayap sendiri?” Tanyaku pada peri Warney. “Tidak” jawab Peri Warney singkat “Huh!” Jawabku mengeluh. “Ya sudah ini sudah hampir malam sebaiknya kau mencari sayapmu besok saja bye aku mau tidur dulu bye” kata peri Warney.

“Kau mau pergi kapan?” Tanya peri Warney menoleh ke belakang. “Besok kataku”. “Kalau begitu, kuberikan kalung kupu-kupu ini yang sesuai dengan warna sayapmu. Kau akan bisa terbang untuk sementara jika kau pencet kupu-kupu itu.” Katanya menjelaskan. “Terima kasih…” Kataku gembira.

Keesokan harinya…
Akupun bergegas ke rumah Peri Warney. “Hati-hati ya…” Kata peri Warney padaku. “Baik.” Kataku. Aku langsung pergi dan menuju ke gunung, dan mendaki.

4 hari aku mendaki 8 gunung yang tinggi.
Sekarang, waktunya ke sungai api. Tapi, tak mungkin aku tak terbang. Aku pun memencet kalung kupu-kupu yang diberi Peri Warney. “Dan… Sayap pink yang bagus!” Kataku. Aku langsung terbang ke sungai api, dan melewatinya. Sekarang selesai… Tapi, ada 1 rintangan lagi. Gua Raksasa merah. Aku pun terbang dan… Sudah sampai. Aku menyusuri gua itu. Ternyata, gua itu ada berlian. Ku ambil banyak dan kumasukkan ke dalam tas. lalu, Aku keluar dari gua. Dan… Sayapnya!! Kutemukan sayapku. Aku segera terbangan dan kembali ke Hcosei.

Aku memberi tahukan kejadian ini pada peri Warney.
Katanya: “Kaulah ratunya. Yang mulia, ayo kita ke Istana.”

Dari situlah, Aku diangkat menjadi Ratu.

========================================================================
Karangan : 
  • Giselle Iona Rachel Tuelah
Facebook : 
  • Giselle Tuelah
========================================================================