Selamat Datang Di LENTERA CERPEN ,semoga cerpen yang ada di blog ini dapat bermanfaat bagi kalian dan SELAMAT MEMBACA
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Persahabatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Persahabatan. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Agustus 2013

Sahabat Yang Pertama

Jonathan, anak cowok baru. Tubuhnya tinggi, kulitnya putih, dan wajahnya tampan. Selain penampilannya yang keren, dia Juga berotak cerdas. Benar-benar cowok sempurna. Tak heran bila dia menjadi idola banyak teman cewek di sekolah.

Jonathan memang segalanya, tapi sayang dia cenderung pendiam. Kalau bicara hanya seperlunya saja. Ia tidak suka bergaul atau berkumpul dengan teman-teman cowok yang lainnya. Ia Juga tidak pernah mengikuti kegiatan yang diadakan di sekolah. Oleh karena itu, dia tidak mempunyai teman atau pun sahabat dekat di sekolah.

Jonathan datang ke sekolah hanya untuk belajar. Pulang sekolah dia langsung kabur entah kemana. Saat istirahat, dia hanya duduk di dalam kelas sambil membaca buku. Tidak ada istilah nongkrong di kantin sambil ngobrol dengan sesama teman. Palingan dia nongkrong di perpustakaan. Menurutku, orang yang tidak gaul seperti dia mestinya hidup di hutan saja…

Selama ini Jonathan memang selalu menjadi Juara pertama di kelas. Namun sayang, kepintarannya itu sepertinya membuat dia Jadi sombong dan suka meremehkan orang lain. Karena sikapnya itu, aku merasa tertantang untuk mengalahkannya.

Akhirnya, kesempatan itu datang ketika nilai ulangan matematikaku ternyata lebih tinggi dari Jonathan. Aku bersyukur karena Pak Abbas, guru matematika, membacakan nilai matematika di depan kelas, sehingga Jonathan mendengar bahwa nilai ulangan matematika ku lebih tinggi dari nilainya.

“Yunita sepuluh, Jonathan delapan!” ucap Pak Abbas.

Memang, itu pertama kali aku berhasil mengalahkan nilai Jonathan. Kulihat dia seperti tidak percaya kalau aku bisa mengalahkannya.

Hari itu aku benar-benar bahagia, karena bisa mengalahkan Jonathan. Aku merasa berada di atas angin.

Saat Jam istirahat, aku hendak keluar kelas, tak kusangka Jonathan menghampiriku sambil menjabat erat tangan ku.

“Selamat yaa, Mir! Ternyata otakmu boleh Juga!” katanya sambil tersenyum. Senyum manisnya memang bikin Jantungku berdebar-debar. Tapi, hatiku terlanjur panas mendengar perkataannya yang bernada meremehkan itu.

“Emang cuma kamu aja yang bisa mendapat nilai bagus!” kataku sewot.

“Hmm… aku harus terus bisa mengalahkannya,” tekadku dalam hati. Tadinya aku cuma mau membuktikan padanya kalau aku Juga bisa mendapat nilai ulangan yang tinggi. Tapi karena dia meremehkan kemampuanku, akhirnya aku Jadi merasa lebih tertantang lagi untuk terus mengalahkannya. Sejak itu, aku pun Jadi tambah giat belajar. aku tidak ingin nilai-nilai ulangan Jonathan lebih tinggi dari nilai ulanganku. Akhirnya, nilai-nilai ulangan kami Jadi saling bersaing. Kadang nilaiku lebih tinggi dari Jonathan, kadang nilai Jonathan lebih tinggi dari nilaiku. Dan sahabat-sahabatku, Martha, Hana, dan Grace ikut memberi semangat agar aku selalu bisa mengalahkan Jonathan.

“Kau harus bisa terus mengalahkan Jonathan, Yunita! Mengalahkan nilai-nilainya dan Juga mengalahkan kesombongannya!” kata Grace memberi semangat kepadaku.

“Ya, benar Grace. Jonathan memang harus tahu, kalau aku Juga bisa mengalahkannya,” kataku.

Kini, untuk menunjang nilai-nilai ku, aku ikut bimbingan belajar. Aku Juga menambah waktu belajar ku dan banyak membaca buku pengetahuan.

Setiap pagi, setelah bangun tidur, aku sempatkan diri untuk belajar sebentar. Lalu, malam hari, waktu belajar aku tambah satu Jam lagi. Aku sampai heran, aku yang tadinya sangat malas belajar, tidak pernah mempedulikan nilai-nilai ulangan yang kudapat, kini bisa berubah total. Ini semua gara-gara Jonathan, cowok bule yang sombong itu. Tapi kalau dipikir-pikir, sebenarnya aku harus berterima kasih kepada Jonathan, karena dialah yang telah membuat aku Jadi tambah giat belajar.

Saat kenaikan kelas pun tiba. Wali kelasku, Bapak Suryono, mengumumkan murid-murid yang menjadi Juara kelas.

“Anak-anak, Bapak akan mengumumkan siapa yang menjadi Juara kelas tahun ini. Kita mempunyai Juara kelas baru, yaitu… Yunita! Nilai rata-rata Yunita hanya terpaut satu angka dengan Juara kelas semester lalu, yaitu Jonathan. Jonathan Juara dua dan Renita Juara tiga. Yunita, Bapak salut padamu, nilai-nilai ulanganmu sekarang melesat sangat Jauh dibanding semester lalu. Bapak ucapkan selamat buat kalian bertiga, pertahankan prestasi kalian, ya!” pesan Pak Sur, disambut tepuk tangan meriah teman-teman sekelas.

“Hebat kau, Yun! Selamat yaa, kau bisa mengalahkan Jonathan,” ucap Grace sambil menyalamiku.

Aku pun sangat gembira dan tidak menyangka kalau akhirnya bisa mengalahkan Jonathan, si kutu buku itu.

“Selamat, Yun. aku mengakui kekalahanku. Kau memang hebat dan pantas menjadi Juara. Maafkan aku, kalau selama ini aku meremehkanmu,” kata Jonathan menyalamiku dengan tulus. Aku pun menyambut uluran tangannya dengan hangat.

“Eh… iya, Nat. Seharusnya, aku yang berterima kasih kepadamu, karena waktu itu aku merasa diremehkan, sehingga aku Jadi tertantang untuk bisa menyaingimu. Aku Jadi punya semangat belajar yang tinggi untuk membuktikan padamu kalau aku Juga mampu mendapatkan nilai-nilai sepertimu,” kataku.

“Ya, aku akui, meskipun aku punya kelebihan, tapi seharusnya aku tidak boleh sombong dan meremehkan orang lain. Ternyata benar kata orang bijak, di atas langit masih ada langit. Yunita, kau telah mengalahkan aku dan Juga mengalahkan kesombonganku,” kata Jonathan merendah sambil tersenyum manis.

“Jonathan, aku senang kamu sudah menyadari kesalahan mu. Mudah-mudahan kamu bisa mengubah sikapmu. Kamu harus bisa menjalin persahabatan dengan teman-teman yang lain, sehingga tidak terkesan sombong,” pesanku.

“Ya, kau benar. Tetapi… Yun, maukah kau yang pertama menjadi sahabatku?” tanya Jonathan sambil tersenyum dan menatap tajam wajahku.

“Hmm… eh… iya.. Nat! aku mau Jadi sahabatmu…” Jawabku agak gugup sambil membalas senyumanmu. Hatiku pun berbunga-bunga. Bayangkan, siapa sih yang tidak ingin menjadi sahabat bagi Jonathan yang tampan dan cerdas?

========================================================================
Karangan :

  • Giselle Iona Rachel Tuelah

Facebook :

  • Giselle Tuelah

========================================================================

Sabtu, 03 Agustus 2013

Terima Kasih Sahabatku

Halo! Namaku Eryka. Aku adalah anak yang termasuk pintar. Tapi aku nggak jago melukis. Padahal, aku pingin banget ikut lomba melukis.

“Son, kamu enak ya, jago melukis.” Kataku kepada Sonya, sahabatku. “Lho, kamu lebih enak! Semuanya jago, kecuali melukis. Lebih enak kamu tau dari aku!” Seru Sonya. “Iya juga sih…” Kataku malu.

“Er, Mau aku ajarin melukis gak?” Tawar Sonya. “Yang bener?” Seruku kaget. Sonya mengangguk kepalanya. “So pasti! Besok bisa?” Tanyaku. “Hmm… Kebetulan gak ada acara sih. Oke deh!” Seru Sonya.

Aku gembira sekali. Aku senang punya teman seperti Sonya. Aku tidak sabar untuk hari esok. Malah, aku udah nyiapin buku gambar, pensil, penghapus, dan krayon dari hari ini.

Hari ini, aku berlatih melukis. Pertama aku diajari untuk menggambar mahluk hidup. Manusia, kepalanya harus alami. Biarpun imajinasi, harus tetap alami. Lalu aku diajarkan menggambar tentang alam. Barulah aku diajarkan mewarnai. Untuk campuran warna, harus tepat digunakan, agar terlihat bagus.

“Sonya, makasih banyak ya. Udah ngajarin aku.” Kataku kepada Sonya. “Ah, nggak usah berterima kasih, Eryka. Sesama teman kan harus membantu.” Jawab Sonya. “Ya, kamu betul. Oke deh, sampai jumpa besok ya!” Seruku. “Dadah Eryka! Sering-sering mampir ya!” Katanya sambil melambaikan tangan.

Saat sekolah, aku mendaftarkan diri untuk ikut lomba mewarnai. Aku yakin, aku pasti bisa! Papa, mama, dan Sonya menyemangatkanku. Aku semakin yakin.

Hari lomba pun tiba. Delapan puluh persen aku yakin menang, dua puluh persen aku tidak yakin, hehehe.

Aku menggambar tentang anak perempuan dan anak laki-laki berjabat tangan dan melihat alam yang indah. Aku yakin tapi tidak sombong.

Saat Mr.Joseph, guru melukis membacakan pengumuman pemenang, ternyata aku juara satu lho! Aku sangat senang. Saat lomba usai, Sonya menghampiriku. “Eryka, selamat ya!” Seru Sonya. “Makasih ya Sonya!” Seruku. Sungguh, pengalaman yang berkesan buatku.

========================================================================
Karangan : 
  • Develyne de Meichella
Facebook :
========================================================================

Jumat, 02 Agustus 2013

Senyummu Senyumnya

Aku merindukanmu, sangat sangat merindukanmu. Andai waktu dapat berputar kembali kuingin mengulang masa-masa indah kita dulu. Kutahu semua itu tak mungkin, tapi aku amat merindukanmu. Bayanganmu mulai redup, wajahmupun tak nampak dalam mimpi malamku. Jika aku boleh memilih aku ingin ikut bersamamu. Tapi, aku sadar aku tak hidup sendiri aku masih mempunyai keluarga yang menyayangiku serta sahabat-sahabatku.

“Na, makan dulu sudah seharian kamu belum makan” ucap ibuku lembut sembari menghampiriku dan menyentuh bahuku. Aku tersenyum menatap wajahnya, kuangkat tubuhku dari atas ranjang. Memang seharian ini aku tak keluar kamar sama sekali.
“Bu, Ria sama beby belum datang?” aku menanyakan kedua sahabatku pada ibu, biasanya mereka datang ke rumah tiap hari.
“belum, mungkin sebentar lagi” jawabnya sambil memberikan sepiring nasi goreng padaku. Aku mengangguk paham dan tersenyum pada ibu. Kemudian Ibu berlalu dibalik pintu dapur.

Kuhabiskan nasi goreng yang dibuatkan ibu, jujur aku memang sangat lapar. Sehabis makan aku menuju ruang tengah menunggu Ria dan Beby. Aku berhenti di depan sebuah foto berukuran 10R yang dipajang lanscape di dinding ruang tengah. Aku tersenyum bahagia melihat foto itu, kutunjuk satu persatu siapa saja yang ada di dalam foto. Foto ini diambil saat kami liburan sekolah 1 tahun silam. Bima, Ria, Beby, Dino, aku dan _ Rama _ ya saat itu kami sedang berlibur di pantai. Tentunya saat itu kebahagiaanku masih utuh karena ada Rama kekasihku, kini hanya kenangan-kenangan indah yang tersisa. Aku sepenuhnya merelekan kepergiannya karena aku yakin ini memang sudah takdir sang pencipta. Rama meninggalkan kami semua karena kecelakaan maut yang merenggut dia dan keluarganya. Padahal saat itu kami akan melaksanakan ujian nasional tingkat SMA.

“Dyana…!” teriak beby dari halaman rumahku, sedangkan Ria masih memarkir sepada motornya. Akupun berjalan menuju teras rumah.
“jreng… jreng… liat?” beby menunjukan poster untuk pertunjukan Drama Musical di kampus kami. “bagus kan?” Ria meminta pujian dariku. Mereka bedua memang ditugaskan untuk bagian promosi, mulai dari poster dan undangan mereka yang mengurusnya. Sedangkan aku mendapat bagian mengurus dekorasi panggung.
Aku mengamati poster buatan mereka, beby nampak tegang menunggu komentarku. Memang kami sama-sama kuliah jurusan design tapi menurut mereka pengamatan designku lebih baik dari mereka.
“Bagus kok” ucapku. Ria dan beby tampak senang dengan ucapanku.
“makasih Dyana” ucap Ria, mereka langsung memelukku.
“hoy.. hoy.. lepasin. Gak bisa nafas!” teriakku. Mereka malah tertawa.

Aku, Ria dan Beby kuliah di kampus yang sama, sedangkan Bima dan Dino kuliah di luar Kota. Jadi kita bertiga seperti Trio Cejo (Cewek Jomblo), ya meskipun Ria dan Beby harus Long Relation dengan cowoknya, tetapi mereka berdua Setia. Aku harap hubungan sahabat-sahabatku akan selalu abadi.

Pertunjukan Drama Musical memang masih 3 hari lagi tapi kami para panitia mulai bersiap-siap mempersiapkan semuanya.
“Na, tolong kamu kamu ambilin beberapa poperty yang masih di ruang rapat” pinta Noy, dia adalah ketua panitia Pertunjukan Drama Musical.
“iya” akupun bergegas menuju ruang rapat. Ada 4 kardus besar berisi barang poperty yang harus dibawa ke panggung tapi aku tak mungkin membawanya sekaligus, ini terlalu banyak.
“gak kurang banyak nieh!” pekikku
“mau aku bantu?” tanya seorang cowok yang tiba-tiba muncul di belakangku. Ternyata Arjuna, dia menawarkan diri untuk membantuku.
“Nggak usah, aku bisa sendiri” jawabku tegas walapun ucapanku berbeda dengan keadaan yang terlihat, Arjuna langsung mengambil kardus-kardus tersebut tanpa bicara lebih lanjut dan hanya menyisakan satu kardus untukku.
“Heeeiii…” protesku
Arjuna tak menggubris ucapanku, dia malah berjalan cepat menuju panggung. Akupun hanya mengikutinya.
“aku kan sudah bilang aku bisa sendiri kok”
Arjuna hanya diam sambil menata kardus-kardus tersebut di atas panggung. Lalu Arjuna menatapku dingin. Aku terkejut dengan tatapannya, akupun terdiam.
“terima kasih kembali” ucap arjuna, kemudian pergi. Aneh.
“hoy.. terimakasih!” teriakku kemudian.

Setelah persiapan untuk Pertunjukan hampir selesai, sekarang tinggal menunggu hari H-nya, ya walapun belum selesai semuanya.
Kegiatan favoritku setelah pulang dari kampus adalah mampir ke Toko Buku dekat rumahku.
“Life is Miracels… Life is Miracels…” gumamku sambil menjelajahi rak buku.
Ini dia!
Saat aku hendak mengambil buku tersebut, ada satu tangan lagi yang secara bersamaan yang juga ingin mengambilnya. Seperti adegan dalam film-film saja. Akupun menoleh pemilik tangan tersebut.
“Arjuna” Pekikku dengan nada kecil
“seperti melihat hantu saja” komentar arjuna sambil tersenyum, tetapi dia masih tak melepaskan tangannya dari buku tersebut.
“kamu kok disini?” tanyaku bingung
“memangnya tak boleh? Inikan tempat umum”
“bukan begitu! Maksudku…”
“kenapa kok Toko buku ini, kamu gak nyadar rumah kita kan satu komplek” potong arjuna sebelum aku melanjutkan ucapanku. Akupun hanya tersenyum.
“tapi bisa gak lepasin bukunya?” pintaku
“ini?” arjuna sepertinya menimbang-nimbang ucapanku
“please” pintaku lagi. Akhirnya dia melepaskan bukunya.
“Thanks” akupun tersenyum pada arjuna dan langsung menuju ke kasir.
Ketika aku keluar dari toko buku, ternyata arjuna masih ada.
“mau aku antarin pulang?” tanyanya
“gak usah deh” tolakku halus
“Okey” dia mengangkat bahunya dan tersenyum.
Akupun berlalu meninggalkan arjuna.

Manis. Ternyata Arjuna kalau tersenyum tambah manis dan Cool. Oh my God ada apa denganku, kenapa aku terus-terusan teringat dengan Arjuna.
“Rama, kenapa akhir-akhir ini bayanganmu mulai hilang. Padahal aku tak ingin kehilangan semua tentangmu” aku menarik nafas dalam-dalam, menahan air mataku. “Apakah kamu disana masih mengingatku?” air mataku tak dapat kutahan “kenapa sosok Arjuna mulai hadir dalam fikiranku, kenapa denganku?” kutatap foto Rama, dia masih tersenyum padaku.
“Rama, bolehkah aku mencintai orang lain selain kamu?” sungguh pertanyaan yang konyol, fikiranku mulai kacau.

Sehari sebelum Pertunjukan Drama Musical, Aku Ria dan Beby hang out ke cafe.
“kamu lagi mikirin apa sih Na?” tanya Ria tiba-tiba, Beby ikutan mengamatiku
“enggak ada kok, perasaan kamu aja kali” elakku
“Na, kita udah kenal kamu lama, ada apa ngaku?” kali ini beby yang angkat bicara
Aku tak dapat mengelak dari sahabat-sahabatku, mereka sudah tau tentangku karena dari kecil kami selalu bersama.
“salah-kah aku me-nyukai orang lain?” ucapku gugup. Ria dan beby saling berpandangan, sejurus kemudian mereka Tersenyum.
“kamu lagi suka sama seseorang?” terka Beby
“Siapa Na?” timpal Ria. Aku hanya terdiam
“Na, siapa yang ngelarang kamu suka sama orang lain, gak ada. Apa kamu masih tak sanggup melepaskan Rama, aku yakin Rama pasti ngerti_ mungkin ini saatnya kamu membuka hatimu” lanjut Ria. Beby mengangguk meng-iyakan ucapan Ria.
“karena selamanya Rama akan selalu di hatimu, tak akan kemana-mana” Ria memegang bahuku. Aku mengangguk pelan.
“Tapi, kalau kamu suka sama orang lain, Kamu jangan pernah lupain Rama. Ingat Rama itu sepupu aku, kamu jangan bikin dia sedih di alam sana” Ancam beby dengan tersenyum.
“Apa-an sih Beb. Ngaco!” komentar Ria. Beby hanya Manyun.
“Iya, Aku akan selalu mencintai Rama kok” ucapku tegas
“ngomong-ngomong, emang siapa yang kamu suka?” tanya Ria. Aku berfikir ‘jawab, tidak, jawab, tidak’
Mereka berdua menunggu jawabanku.
“Cari aja sendiri” ucapku menggoda mereka
“Yeeeaaah” seru Ria dan Beby

Akhirnya Pertunjukan Drama Musical dimulai, setidaknya tugasku sebagai bagian Dekorasi panggung Kelar, tinggal para pemain dan pengisi acara yang unjuk Gigi. Awalnya aku disuruh untuk menjadi pemeran dalam drama, tapi aku langsung menolaknya karena aku tidak PD tampil di depan orang banyak.
“haiiisssh” seseorang menabrak tubuhku, sepertinya dia tergesa-gesa
“Sory” ucapnya
“Ar-juna” aku menatapnya “kamu ngapain disini? Seharusnya kamu duduk di bangu penonton” ucapku. Arjuna tak menggubris ucapanku, dia hanya tersenyum dan berlalu meninggalkanku.
“Selalu” gumamku
“Apanya yang selalu Na?” tanya Beby yang tiba-tiba merangkulku dari belakang. Aku hanya menggeleng. Kemudian kamipun menuju depan panggung.

Kenapa setiap Arjuna tersenyum aku teringat oleh Rama_ Aku mengenal Arjuna cukup lama tapi kenapa aku baru sadar kalau Arjuna mirip dengan Rama. Senyumannya, Sikapnya yang Cuek. Semua terasa Mirip.
Aku, Ria dan Beby berdiri di belakang bangku penonton untuk menyaksikan pertunjukan. Karena kami bagian dari panitia jadi tidak kebagian tempat duduk. Sampai hampir akhir acara kami masih setia berdiri walaupun kakiku sedikit kesemutan.
“Okey, sekarang sambut penampilan terakhir dari Arjuna Cs, berikan tepuk tangan!… wuuuu” ucap si Pembawa acara.
“WOOOOW” seru Ria dan Beby. Aku hanya melongo. Arjuna Cs. Sejak kapan Arjuna punya Band.
“Keren..!” teriak Beby
“Selamat Malam semuanya… lagu ini kupersembahkan untuk seseorang yang membuatku jatuh cinta saat pertama kali aku melihatnya, hari ini, besok, dan seterusnya. Dyana Sastika” ucap Arjunya, sambil menatapku dan memberikan senyuman termanisnya.
“wuuuuuu” riuh teriakan para penonton. Lagu ‘A Thousand Years’ akhirnya dinyanyikan oleh Arjuna Cs.
Akupun hanya dapat tersenyum, menatap sosok yang selalu memberikan senyuman termanisnya. Tanpa sadar aku juga seperti melihat sosok Rama di atas panggung, dia menatapku dengan Tersenyum.
“Na, dia?” tanya Ria, di antara riuhan para penonton yang sangat antusias dengan Arjuna Cs.
Aku hanya mengangguk. Lalu Ria memelukku, Beby yang melihat kami berdua berpelukan ikut-ikutan memelukku.
“Dalam rangka apa nieh kita berpelukan?” ucap Beby. Dasar Beby Lemot. Aku dan Ria hanya tertawa.

Malam semakin larut aku, Ria dan Beby hendak pulang bersama-sama. Namun semua berubah 180o saat Arjuna datang.
“Emmm, kayaknya kita gak bisa pulang bareng deh Na” ucap Ria dengan nada menyesal yang dibuat-buat.
“Lho, memang kenapa?” tanya Beby. Yang tak mengerti maksud Ria.
“udah kita pulang berdua aja, okey beb” Ria menarik Beby, Beby hendak protes tapi Ria menutup mulutnya dan menariknya dengan paksa.
Aku yang melihat ulah Ria tertawa kecil. Tak sadar kalau arjuna sudah berdiri di sampingku.
“Jadi?” ucap Arjuna
“Jadi apanya?” tanyaku pura-pura tak mengerti maksud Arjuna.
Dia malah menggaruk-garuk kepalanya.
“Aku memang tak dapat menggantikan Rama, tapi izinkan aku menemani hari-harimu” ucapan Arjuna membuatku membatu. Dia mengetahui tentangku lebih dari yang kubayangkan.
“Apa tadi Norak?” tanyanya padaku “bikin malu kamu ya?” Aku tersenyum mendengar pertanyaan Arjuna.
“Sedikit bikin malu aku sih” ucapku cuek “tapi itu cukup buat membuktikan perasaanmu”
Arjuna mengangkat alis. “So?”
Aku menghela nafas,
“thanks, aku sangat tersanjung” ucapku kemudian.
Arjuna menarik tanganku dan menggemgamnya. Aku tersenyum padanya.

Akhirnya Kebahagiaanku Utuh kembali. Aku punya Keluarga, Sahabat, Arjuna dan Rama yang akan selalu di hatiku.
=======================================================================
Karangan : 
  • Anitrie Madyasari
Facebook : 
  • Anitrie Ganbatte Pholephel
========================================================================