Selamat Datang Di LENTERA CERPEN ,semoga cerpen yang ada di blog ini dapat bermanfaat bagi kalian dan SELAMAT MEMBACA

Sabtu, 10 Agustus 2013

Ikhlas

Terdengar suara tawa, teriakan, bising, gaduh bahkan suara tv yang seolah dibiarkan menyala dengan volume yang besar. Mengganggu tidurku kala itu. Dengan pandangan yang masih kabur dan tubuh yang masih letih ku paksakan diri ini untuk segera bangun dari pulau kapuk. Ku kenakan kacamataku lalu ku matikan kipas angin yang masih berputar dan berdenyit di kamarku. Dengan sempoyongan aku mulai membuka pintu kamarku dan membiarkan kegaduhan yang terdengar itu ku lihat. Ternyata kegaduhan itu berasal dari teman-teman satu kampus sekaligus satu kontrakan denganku. “Eh bangun juga lu.” Saut salah seorang temanku yang bernama Agung begitu melihatku keluar dari kamar. Hari itu aku sedang tak ada kelas dan berniat untuk bermalas-malasan di kontrakan yang ku tinggali bersama teman-temanku ini tapi memang itu sih yang sering ku lakukan hehe. Mungkin memang bukan waktu ku untuk bermalas-malasan hari ini karena aku diajak oleh Agung untuk ke kampus yang ingin menghadiri rapat EO (Event Organizer) di kampusku. Awalnya aku menolak tapi karena bujuk rayunya aku pun mulai mandi dan mengikutinya ke kampus.

Oh iya, aku belum memperkenalkan diriku. Namaku Rio mahasiswa semester 3 di salah satu Universitas di Jakarta. Jurusan kuliah ku adalah Managemen Komunikasi oleh karena itu ada mata kuliah EO yang menjadi mata kuliah wajib untuk jurusan ku. Awalnya niat ku mengikuti Agung untuk menghadiri rapat EO tersebut adalah ingin lebih tau bagaimana mata kuliah itu berjalan. Wajar saja karena saat itu aku belum mengambil mata kuliah tersebut. Di sinilah awal cerita baruku dimulai. Saat aku bertemu dengannya. Seorang gadis yang berhasil mencuri hatiku. Namanya adalah Lita. Bertubuh kecil, berwajah putih, bersuara agak cempreng dan dia juga mengenakan hijab. Aku memang sangat suka melihat gadis yang mengenakan hijab di kepalanya karena buatku itu adalah tanda ketakwaannya pada Tuhan. Dia juga adalah orang yang smart. Dari mana ku tahu? Itu karena selama mengikuti rapat aku selalu memperhatikannya. Dari cara dia berbicara, cara dia mengeluarkan pendapat hingga cara dia memimpin rapat. Seorang perempuan menjabat sebagai ketua dan mampu memimpin jalannya rapat? Aku pikir dia lebih smart dari yang ku lihat saat itu. Ternyata ikut menghadiri rapat temanku ini bukan lah sebuah kesalahan karena aku bisa bertemu dengannya dan di sinilah pertama kali aku mengenalnya.

Tanpa disadari waktu terus berjalan, hari terus berganti dan pertemananku dengan Lita pun terus berlanjut. Hingga saat ini aku sudah memasuki semester 8 dan Lita sudah lulus lebih dulu. Bukan karena dia senior ku tapi karena dia yang menjalani kuliah dengan waktu cukup singkat yaitu 3,5 tahun. Masih terngiang di telingaku bagaimana suaranya saat dia tertawa. Masih terbayang di ingatanku bagaimana senyuman manisnya membuatku bersemangat untuk kuliah. Masih terlintas di benakku bagaimana cara dia berjalan. Semua ingatan itu masih tersusun rapi di dalam memori otakku ini walaupun aku harus bisa menerima kenyataan jika aku tak bisa memilikinya. Sudah hampir 2 tahun lebih aku mengenalnya dan sudah selama itu juga aku memendam rasa padanya. Entah apakah dia menyadarinya atau tidak? Apakah dia tahu jika aku selalu tersiksa ketika harus melihatnya tertawa karena pria lain? Apakah dia tahu jika dialah yang menjadi alasanku untuk rajin kuliah? Hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Masih teringat di benakku saat aku harus mengantarkannya pagi-pagi buta ke stasiun. Kala itu dia meminta kepada teman-temanku untuk mengantarkannya ke stasiun pagi sekali tapi tidak ada yang bisa. Aku pun menawarkan diriku untuk mengantarnya walaupun ku tahu dia tak pernah meminta langsung padaku. Kala itu aku hanya ingin merasakan waktu berdua dengannya walaupun ku tahu dia akan pergi ke Semarang untuk berjumpa dengan kekasihnya. Menikmati soto bersama dengannya sembari menunggu kereta tiba. Hingga mengantarkannya sampai ke depan pintu kereta. Dan aku harus telat masuk kuliah pagi karena harus mengantarkan Lita ke stasiun. Itu semata-mata karena aku menyimpan rasa padanya.
Tapi bagaimanapun aku harus tetap menerima kebenaran jika aku tak pernah bisa memilikinya. Aku harus menerima takdirku karena harus melihatnya bahagia bersama orang lain. Aku harus bisa menahan rasa sakit ini ketika tahu aku bukanlah pria yang beruntung untuk memilikinya. Mungkin ini konsekuensi yang harus ku terima karena aku yang tak pernah berani menyatakan cinta. Ini adalah sesuatu yang kudapat dari apa yang selama ini hanya bisa ku pendam. Sebuah rasa cinta yang sederhana namun menyakitkan ketika cinta itu harus dipendam dalam-dalam selamanya. Tapi ini adalah jalan takdir yang ku pilih sendiri, jalan takdir yang harus ku lalui. Tak pernah luput dari mulutku tiap aku mengucap do’a pada Tuhanku untuk kebahagianmu. Tak pernah lupa aku selalu menyebut namamu di tiap aku meminta perlindungan pada Tuhanku. Ya Tuhan, jika memang ini yang terbaik dari apa yang ku dapat, jika ini memang jalanmu untuk kebahagian ku dan kebahagiaannya dan jika ini adalah jalan yang bisa membuatnya selalu tersenyum maka aku ikhlas ya Tuhan. Aku ikhlas.

========================================================================
Karangan :
  • Rahardian Shandy

Blog :


Facebook :

  • Rahardian Shandy

========================================================================

Bersamamu

“Untung kamu sudah datang, pembukaan lomba bentar lagi mulai tuh.” Pak Sartono – guru agama di SMP 2 Mataram tempat aku sekolah – mengomeliku yang datang tergopoh-gopoh berlari kecil dari gerbang sekolah.
“Maaf pak telat, yang lain sudah datang?”
“Sudah ada Imam sama…”
“Eh kak Fer udah dateng.” Suara Imam memecah ucapan Pak sartono, aku tak mendengar nama siapa tadi yang disebutnya. “ah Imam, ayo dah dimana tempat pembukaannya? Langsung saja kita kesana?.” Aku menarik tangan Imam mengajaknya ke tempat pembukaan. “tunggu Anggun dulu kak.” Imam melepaskan tangannya dari genggaman. “eehh, siapa Anggun?” aku heran.
“Kakak ini tau tim kita gak sih? Kan cerdas cermat dimana-mana bertiga kak.” Imam menunjuk ke arah anak yang sedang duduk di bawah pohon mangga.
“Anggun cepet!” Imam melambaikan tangan kepada anak itu.
“Iya kak tunggu.” Anak itu berdiri dan berlari ke arah kami.
Namanya Anggun, Anggun Aprillia Sani. Ini awal cerita aku mengenalnya. Seorang anak kecil yang cantik, lucu, imut – pipinya tembem kayak bakpao – anak yang ceria dan manis. Kami saat itu mengikuti lomba MFQ – Musabaqoh Fahmil Qur’an, lomba cerdas cermat dalam bidang agama Islam. Kami satu tim. Imam dari kelas 8A: aku, Ferry, Firyal Dhiyaul Haqqi – tak ada unsur kata ‘Ferry’ dalam nama lengkapku, semua bertanya begitu, aku tak tau – dari kelas 9H: dan dia, Anggun dari kelas 7A.
“Maaf kak lama.” Wajah ceria itu tersenyum manis padaku. “oh iya gak apa-apa kok.” Aku balik tersenyum padanya. “ayo kak.” Imam balik menarik tanganku sekarang.

Lomba itu diadakan di SMP 1, lokasinya di sebelah SMP kami. Saat itu kami mendapatkan juara 1. Dan lolos ke tingkat kota.
“Selamat nak.” Pak sartono menyambut kami di luar ruangan.
“Alhamdulillah tadi dapet soal yang gampang karena Anggun yang milih soalnya.” Imam terlihat sumringah setelah keluar dari ruangan lomba.
“Iya tadi sistemnya kita dikasih pilihan soal dalam amplop. Tiap regu ngambil 1 soal. Terus yang ngambil Anggun. Waaahhh memang beruntung banget.” Aku menjelaskannya pada Pak Sartono yang tersenyum melihat kami mendapatkan juara. “Iya bapak sudah tau kok Fer, gak perlu kamu jelasin.” Pak sartono menepuk-nepuk bahuku. Anggun hanya tersenyum. Rupanya dia masih malu dengan kakak-kakak kelasnya. Maklum lah, dia kan masih anak kelas 7. Padahal baru saja kita berada dalam satu tim.

Di tingkat kota, kami mendapatkan juara 3, walaupun Anggun kembali mengambil soal yang gampang, tapi lawannya pintar-pintar semua. Maklum lah mereka dari sekolah Madrasah. Mendapatkan juara 3 membuat Imam sedikit sedih, mungkin dia merasa bersalah karena dia yang menjadi juru bicara tim kami, dia merasa bertanggung jawab, tapi ini kan perlombaan tim, jadi tak ada yang bisa disalahkan, kemenangan adalah kemenangan tim, dan kekalahan juga adalah kekalahan tim. Aku mengungatkan Imam. Anggun juga terlihat masam. Lomba itu selesai sore hari. Kami berfoto-foto dengan tim finalis untuk dimuat di koran Lombok Post. Hari itu terasa panjang. Walau kecewa, kami setidaknya telah melakukan yang terbaik, bagi tim kami, dan bagi sekolah kami.

Setelah hari itu, kehidupan sekolah kembali berjalan seperti biasa. Lomba telah usai, dan kebiasaan sekolah kami adalah mengumumkan hasil lomba-lomba yang diikuti murid-murid setelah upacara hari senin selesai. Kami bertiga maju. Aku bertemu Anggun lagi saat itu. Dia tersenyum manis menyapaku, “Hai kak, lama gak ketemu, hehe.” Pagi itu cerah, dan sapaannya tadi menambah keceriaan di pagi itu.
“Kak Fer!” Imam datang dari arah barisan sebelah selatan.
“Anggun, Imam.” Aku tersenyum pada mereka yang menyapa dengan hangat.
Hari itu kami terlihat hebat di sekolah kami, maju ke depan, disaksikan semua warga sekolah untuk diberikan piala sebagai simbolisasi, karena piala itu akan dipajang di lemari piala sekolah.

Setelah Senin yang membanggakan itu, aku jarang bertemu mereka. Aku juga sibuk persiapan ujian nasional. Aku sudah kelas 9. Saatnya fokus untuk bisa masuk ke SMA impianku, SMA Negeri 1 Mataram. Siapa yang tak mengidam-idamkan SMA itu? Berisi anak-anak terbaik se-pulau Lombok. Anak-anak pilihan. Betapa bangganya mengenakan seragam khas SMA itu. Juga karena kakakku yang sudah lebih dahulu berada disana menjadi lecutan semangatku. Karena selama ini aku selalu mengikuti jejaknya. SD sama, SMP juga, dan SMA harus bisa sama dengannya.

Sebulan berlalu, kembali ke kehidupan normal. Bersama teman-teman sekelas yang gila-gila. Teman sebangkuku yang bernama Adit – dia playboy, sangat playboy, muka sih biasa-biasa aja, standar lah, gantengan juga aku – bercerita-cerita di waktu jam istirahat. Dia cerita kalau dia baru aja mutusin pacar barunya – mutusin pacar baru? Gila ni anak – yang anak kelas 7D, namanya Rina, aku kenal dia. Selama dia pacaran sama si Playboy Adit ini, dia sering curhat sama aku. Secara gitu dia tau kalau aku teman sebangkunya Adit.

Apalagi setelah dia diputusin sama si Adit, Rina jadi temen sms-anku tiap malam. Dia curhat, galau katanya, maklum anak SMP rentan galau. Putusnya dia sama Adit buat saya sama Rina jadi deket – hubungan kakak-adik apa lah namanya – karena aku sudah nganggap dia sebagai adik sendiri. Kasian anak itu, rupanya terlalu cinta sama yang namanya Adit. Dasar playboy.

Aku sering main-main ke kelasnya Rina. Entah kenapa, setelah dekat dengan dia, sepertinya rasa suka’ muncul. Setelah dari kelas 7 sampai kelas 9 semester 1 aku jatuh cinta dengan seorang anak blasteran arab bernama Ismi, sekarang move ke anak kelas 7D ini. Tapi Rina ternyata suka’ sama temenku, temen aku SD, namanya Hadi. Galau, itu tema aku setiap malam – sekali lagi, anak SMP rentan galau.
Hingga suatu hari, aku sama Hadi main-main ke kelasnya Rina. Itu jam istirahat. Melihat Spendu – nama singkat SMP 2 – dari atas lantai 2.
“Hei dek!” itu Anggun, aku menyapanya setelah melihat dia jalan bersama temannya menuju ke arahku.
“Iya kak?” dia tersenyum manis seperti biasa.
“Nnnggg… Boleh minta nomer HP gak?” aku gak tau apa yang ada dipikiranku saat itu, tiba-tiba bisa ngomong to the point gitu. Aku sendiri bingung. Itu kan pertemuan pertama setelah lama gak bertemu dia.
“Boleh kak.” Anggun mengangguk tersenyum malu.
“Di, tulisin dong nomer HP-nya Anggun nih.” Hadi yang memegang Handphone-ku langsung mencatatnya.
“Makasi ya dek.” Aku tersenyum padanya. “iya kak.” Anggun balas senyum. Lalu pergi bersama temannya.

Semenjak aku dan Anggun bertemu kurang lebih sebulan yang lalu di acara MFQ, aku tak tahu nomer HP Anggun, tak pernah terlintas untuk memintanya saat itu. Entah kenapa tadi begitu tiba-tiba, terjadi begitu saja. Perasaan di Rina masih ada, tapi di Anggun ini apa namanya? Lagi-lagi, SMP masa yang rentan galau.

Rupanya si Adit itu telah menemukan pengganti si Rina, langsung, dia kan playboy. Aduh, tak kepikiran aku jadi orang yang kayak dia, kok bisa? Aku juga harus berenti suka’ sama Rina. Harus belajar dari Adit. Di sini banyak kok cewek yang manis, berjilbab, solehah. Jadi sebenarnya gampang lah buat move on. Toh ada Anggun. Aku juga sebenarnya lagi deket sama cewek anak kelas 9F, namanya Ayu. Dia cantik, baik, dan yang paling penting, dia juga suka’ sama aku. Aku curhat sama Ayu tentang Rina, tak tau lah apa yang dia rasain waktu aku curhat ke dia tentang Rina. Tapi Ayu adalah pendengar yang baik. Mungkin hatinya sakit, aku tak tau.

Ada juga cewek yang buat aku tertarik waktu itu, namanya Aini. Anak kelas 9I. Dia awalnya kelas 9G, waktu ada program perluasan kelas, dia dipindah. Tapi perasaan itu hanya rasa suka yang biasa. Karena dia manis, cantik, putih, tembem, berjilbab. Jadi suka’ aja ngeliatnya. Ya, itu tipe cewek aku. Tapi aku tak kenal dengannya. Malu aku berkenalan. Jadi lupakan.

Malam hari terasa sepi. Yang awalnya selalu ditemani Rina, sekarang dia sudah bersama Hadi. Aku teringat dengan Anggun. Kuambil HP. “Assalamu’alaikum. Anggun, gimana kabarnya?” ini sms pertama aku ke Anggun. Maaf, walaupun masa SMP masa yang dibilang Alaayy, tapi aku tak se-alay yang kalian kira. Aku nulis sms biasa aja kok.
“Wa’alaikumsalam, ini siapa ya?” tak lama Anggun menjawab sms itu.
“Ini kak Ferry, masi inget kan?”
“Ooohhh, kak Feeerrryyy, apa kabar kak? Anggun baik-baik aja! :D ” terlihat Anggun begitu senang menerima sms dariku. Bukannya kePD-an. Tapi keliatan kok dari caranya membalas sms. Ceria sekali.
Aku juga cerita semua tentang Rina ke Anggun. Dan dia mengatakan, “Aku ada disini kak, sama kakak, akan aku buat kakak ngelupain Rina.” Jawaban itu buat aku tenang. Senang bisa kenal dengan Anggun. Hari-hari menjadi lebih berwarna sejak kedekatan kami. Aku jadi bisa melupakan Rina, total bisa melupakannya. Aku suka sama Anggun. Aku gak mau kehilangan dia. Aku sudah menganggap seperti adik sendiri. Dia juga demikian, menganggapku seperti kakak kandungnya sendiri.
“Kak kita buat janji yuk?” Anggun mendengarkan sebuah lagu kepadaku. “Ini lagu kita kak.” Anggun tersenyum. Aku terdiam. Mendengarkan lagu itu. “Kakak janji ya bakalan selalu ada, ngejaga Anggun, janji ya” Anggun mengulurkan jari kelingkingnya tanda kesepakatan. “iya kakak janji dek.” Dia tersenyum lebar mendengarnya.
Janji itu masi teringat sampai saat ini. Setiap mendengar lagu itu, aku mengingat Anggun. Mengingat uluran jari kelingkingnya yang meminta kesepakatan.

Aku mendapatkan impianku, mendapatkan SMA 1 Mataram. Yang artinya aku harus pisah dengan Anggun. Tiga bulan masa kedekatan di bangku SMP dengan Anggun. Dan kini aku memulai dunia baru. Dunia SMA. Walaupun sudah berada di bangku SMA, hubungan aku dengannya lancar-lancar saja, komunikasi tak pernah putus. Bahkan kami sesekali pergi jalan-jalan berdua.

Dua bulan berlalu terjadi lost contact di antara kami. Entah kenapa aku berpikir ada yang berubah dari Anggun. Aku tak tahu apa penyebabnya. Hingga saat itu.
“Kak, Anggun capek, sakit hati sama seorang cowok.” Sms itu masuk ke HP-ku.
“Kenapa dek? Siapa?”
“Anggun mau pindah sekolah aja, Anggun mau ke Jakarta. Pindah ke sana.” Aku terkejut membaca sms itu. Tanpa menjawab sms itu aku menuju rumah Anggun untuk mencari kejelasannya langsung.
“Assalamu’alaikum, Anggun.” Lama menunggu pintu itu terbuka. “wa’alaikumsalam” itu bukan Anggun, itu Faras, kakaknya. Aku tau Faras tak setuju aku dekat dengan Anggun. Karena dia sahabatnya Ayu – kelas 9F juga, jadi dia menganggap aku akan mempermainkan adeknya. Raut wajahnya tak bersahabat, tapi dia berbaik hati memanggilkan Anggun untukku. “Anggun, ada Ferry tuh!”
Malam itu aku mendapatkan kejelasan yang membuatku terkejut. “Kak, Anggun capek nunggu.” Aku heran. “Anggun pengen denger kalimat itu dari kakak.” Tunggu dulu, aku semakin bertanya-tanya. Ini ada apa sebenarnya? “Ada apa dek?”, “Anggun suka sama kakak, Anggun mau jadi pacar kakak, Anggun mau denger kakak bilang cinta ke Anggun.” Aku terperanjat. Bagaimana tidak, seumur-umur baru Anggun yang mengungkapkan perasaannya langsung ke aku. Aku terdiam. Aku menatap matanya yang berkaca-kaca. Alisnya mengkerut. “Terus jadi mau pindah ke Jakarta? Cuma gara-gara itu?” aku berusaha tersenyum seolah mengajaknya ikut tersenyum juga. Kepalanya tertunduk dalam diam. “Dek, kakak gak mau pacaran sama Anggun, Anggun sudah kakak anggap sebagai adik kakak sendiri. Iya kakak suka juga sama Anggun, kakak akui itu, tapi kakak gak mau pacaran sama Anggun. Gak bisa dek. Maaf.” Anggun semakin terdiam. Dia mengangkat wajahnya. Dia tersenyum, meski air mata jatuh di pipinya. Itu senyum terakhir yang aku lihat. “Kakak pamit dek. Maaf ya.” Aku tak tau bagaimana perasaan Anggun waktu itu, yang jelas pasti sakit.
“Dek jangan nangis.” Aku berusaha tersenyum padanya. Dia membalas senyumku. Ya Allah apa yang aku perbuat malam ini. Malam terlihat gelap – meski umumnya malam memang gelap – tapi malam itu terasa lebih gelap dibanding biasanya. Aku pamit ke Anggun. Di tengah jalan terbayang terus senyum manisnya tadi. Apa aku menyesal? Sepertinya tidak. Jalanan itu terasa panjang dan lenggang.

Setelah kejadian itu, aku kembali lost contact dengannya. Sebulan berlalu dan aku mendengar kabar bahwa dia kini berpacaran, dengan seorang yang non-muslim. Saat itu aku benar-benar menyesal. Aku merasa tak sanggup menjaga adik sendiri, tak sanggup menjaganya. Kemana janji itu? Apa aku melanggarnya? Atau Anggun yang membuatku untuk melanggar janji itu?

Satu semester sudah berlalu. “Fer, ada kabar bagus.” Naufal – sahabat baikku – memanggil sambil menunjukkan sms yang ada di HP-nya. Aku cerita semua tentang Anggun padanya. Dia sahabat yang baik. Dari keluarga seorang hakim dan dokter. Tanpa semua sadari – termasuk dia – aku dan Naufal jatuh cinta dengan perempuan yang sama saat itu, teman sekelas kami. Perempuan yang familiar, tak asing bagiku. Tapi aku tak mau membahasnya disini. “Ada apa fal?” aku penasaran. “Anggun mau balik ke kamu katanya!” Balik? Aku heran. “Iya dia mau minta maaf ke kamu. Katanya dia ngerasa kehilangan kakaknya. Berita bagus bro!” tak kepalang tanggung senangnya aku saat itu. Itu adalah titik balik hubungan aku dengannya nyambung lagi.
“Kak, maaf ya, Anggun kehilangan kakak. Kakak masi inget kan sama janji kita? Terus terang Anggun sakit hati malam itu, mangkanya berpikir pendek dan mau pergi dari kakak. Anggun bohong bilang mau pindah ke jakarta, karena emang gak tahan.” Panjang lebar sms Anggun itu. Aku senang dia akhirnya mengerti. “Iya dek, gak apa-apa kok, kakak juga minta maaf ya.”

Sudah 3 tahun kedekatanku dengan Anggun tanpa ada perselisihan apapun. Hubungan yang adem-ayem. Kini aku berada di bangku kuliah. Masuk di Unram Fakultas MIPA jurusan Fisika. Anggun yang berusaha ingin masuk ke SMA 1 harus gagal dengan usahanya. Dia memang sedih. Tapi bukan Anggun namanya kalau larut dalam kesedihan. Dia sekarang di SMA 2 – Smanda, duduk di kelas 11. Sudah lama hubungan kakak-adik ini berjalan. Teman, hubungan adik-kakak ini cuma ada di Indonesia, tak tau lah seperti apa itu hubungan kakak-adik, tapi seperti inilah yang aku jalani dengan Anggun. Kalian yang ada di Indonesia pasti pernah mengalaminya juga.

Kemarin malam aku menelepon Anggun. Dia berceloteh, bercerita tentang masa SMA-nya di Smanda. Aku kangen mendengar suaranya, mendengar keceriaannya. Senang sekali bisa mendengar suara ribut itu. Ahahaha.. Tak terasa hidup ini berjalan begitu cepat. Anggun sudah memiliki dunianya bersama sahabat-sahabatnya. Janji itu tetap ada, dan tetap kami ingat. Malam itu terasa panjang, curhat-curhatan, ketawa bareng, saling olok-olokan. Walaupun hanya lewat telepon, tapi hangatnya terasa. Keceriaan Anggun yang dulu aku kenal sangat terlihat.
“Dek, tunggu dulu, coba denger deh.” Samar terdengar sebuah lagu terputar di radio yang berdiri di atas meja belajar krem di samping kasur. “Ini lagu kita.”

Memandang wajahmu cerah
Membuatku tersenyum senang
Indah dunia

Tentu saja kita pernah
Mengalami perbedaan
Kita lalui
Tapi aku merasa jatuh terlalu dalam
Cintamu…
Ku tak akan berubah
Ku tak ingi kau pergi
Slamanya
ku kan setia menjagamu
bersama dirimu,dirimu
sampai nanti akan slalu
bersama dirimu
Saat bersamamu kasih
Ku merasa bahagia
Dalam pelukmu
Ku tak akan berubah
Ku tak ingin kau pergi
Slamanya…
seperti yang kau katakan
kau akan slalu ada
menjaga, memeluk diriku
dengan cintamu

Teringat kembali janji itu, saat-saat itu, masa-masa kedekatan aku dengan Anggun di SMP dulu. Anggun, justru karena aku suka sama kamu mangkanya aku gak ingin berpacaran denganmu. Karena aku tak ingin berpisah denganmu mangkanya aku menolak malam itu. Kita masih SMP saat itu, masa paling labil di dunia. Masa yang rentan galau dan belum dewasa. Anak-anak SMP itu berpikiran pendek. Tak kan ada hubungan pacaran yang akan bertahan lama. Tak ada. Pasangan yang berpacaran, jika sudah putus, pasti ujung-ujungnya bermusuhan, gak saling sapaan, terus pisah deh. Tak ada kelanjutannya. Karena itu aku gak mau pacaran sama Anggun. Karena aku gak mau kehilangan dia.

Jika kamu menyukai seseorang, tak mesti mengaplikasikannya dengan sebuah hubungan pacaran. Simpanlah jika itu memang yang terbaik bagimu, kelak ungkapkan perasaan itu melalui janji suci jika sudah datang waktu yang tepat.

========================================================================
Karangan :

  • Firyal D. Haqqi

Facebook :

  • Firyal Dhiyaul Haqqi

========================================================================

Selasa, 06 Agustus 2013

Kado Terbaik Untukku DariNya

Prolog
Bismillahirrahmanirrahim
Bismillahirrahmanirrahim
Bismillahirrahmanirrahim
Allah Allah Allah
Yang Maha Pengasih Yang Maha Penyayang Yang Maha Mengabulkan Lagi Maha Bijaksana
Tunjukkan semua kekuasaanmu yang belum kami ketahui ya Allah
Kabulkan semua doa kami ya Allah
Hanya padamu kami memohon dan hanya padaMu kamu meminta
Dan hanya kepadaMu pula kami berserah diri



“Nggak, nggak mungkin itu semua nggak adil” kesal Arin
“Iya ini nggak mungkin terjadi, masak mereka yang seenaknya beli kunci bisa lulus dengan nilai yang baik, sedangkan kita…” kata Krish
“Apaka ini suatu hal yang buruk buat kita?” kata Ella
“Kita tak perlu menyesal dengan semua yang terjadi, mungkin justru ini awal yang baik buat kita” kataku
“Apa awal yang baik?, nilaimu anjlok sedangkan mereka yang nggak usaha siang malem, bisa dapet yang lebih baik dari kita, masih kamu bilang itu awal yang baik?” gertak Puput
Begitulah reaksi kita berlima setelah nilai UN di umumkan. Aku tertegun dalam keramaian melihat sorak sorai teman-teman menyambut kelulusan UN mereka dengan begitu senang. Mereka tampak senang, apakah sekarang Aku juga sama seperti mereka? Senang saat ini? Mungkinkah tidak?

Aku tak tahu bagimana raut orang tuaku saat mengetahui nilai-nilai UN nanti yang sedang-sedang ini, atau mungkin cukup miris jika dibandingkan dengan usaha orang tuaku yang siang malam bersusah payah untuk membayar seluruh kebutuhan sekolahku? Ya Allah, bagaimana raut Ibuku nanti? Akankah nanti Ia akan tersenyum menyambutku pulang meski nilaiku seperti ini? Apakah ia akan menerimaku? Bagaimana pula dengan Ayahku? Akankah Ia marah? Melihat Aku nanti? Rasanya Aku tak sanggup jika harus melihat kedua orang tuaku menitikkan air mata, entah itu di depan ataupun di belakangku. Sungguh Aku benar-benar tak sanggup, rasanya Aku menjadi anak yang tak tahu balas budi.

Aku tau ini bukanlah akhir dari segalanya, Ya Allah kuatkanlah hambaMu ini dalam menerima cobaan ini, juga teman-temanku. Kami memilih jujur meskipun kami tak tahu jika hasilnya akan seperti ini. Ya Allah jadikanlah kami hambaMu yang berpikir ke depan, dan yakinkanlah kepada Kami semua bahwa di balik semua ini pasti ada hikmahnya.



“Ibu maafkan Rina ya.. nilai Rina tak seperti yang Ibu harapkan” kataku dengan menunduk
Ibu hanya terdiam menatapku.
“Ibu Rina tau, mungkin Rina bukan anak yang baik, dengan nilai Rina yang tidak memuaskan hati Ibu, Rina minta maaf” kataku menahan air mata.
Ibu masih terdiam.
“Bu…” Aku tak sanggup berkata apapun di depannya.
“Tapi Rina mengerjakannya dengan jujur Bu… Rina juga sudah belajar Bu.. sudah solat malam, solat duha, tapi…”
“Tapi hasilnya tidak seperti yang kau harapkan begitu?” ucap Ibu memotong kalimatku
Aku hanya tertunduk.
“Sayang, Ibu tak mengharapkan seorang anak ibu ini menjadi perempuan yang pemalas, yang menjadi koruptor nantinya, pembohong, atau apapun lainnya yang tak pernah ibu harapkan” tandas Ibu.
“Lantas..?” Aku menatap Ibu dengan gugup
“Ibu mendidikmu dan selalu mendoakanmu supaya kau menjadi anak yang sholehah, pandai bersyukur, dan bersabar Nak, tentunnya menjadi seorang anak yang jujur” Ibu menatapku dengan lembut.
“Jjad.. ddii, Ii.. bbu tidak sedih?” kataku
“Tidak sayang, Ibu tidah sedih ia juga tidak marah kepadamu, tidak juga dengan Ayah” kata Ayah yang datang tiba-tiba seraya memeluk pungungku.
“Kami percaya padamu Nak.. kami tau kau tak mungkin mengotori nilaimu dengan prbuatan curang seperti itu bukan” kata Ayah dengan senyumnya yang khas.
“Kami justru bangga padamu.. kamu mampu melewati semuanya dengan menahan hawa nafsumu, nilaimu bersih” kata Ibu dengan hangat.
Aku terharu. Segera kupeluk mereka dengan sangat erat.
“Terimakasih Ayah.. Ibu..” kataku menangis haru.

Tiba-tiba terdengar bunyi bel dari arah kamarku.
KRinng… kring… kRing…
Aku berlari kekamar.
*Aku terbangun.
Jadi semua itu tadi hanya mimpi?
Lalu bagaimana dengan nilai hambaMu ini ya Allah… aku takut mimpi itu… mimpi itu… jadi kenyataan.
Aku segera berlari mengambil air wudhu untuk sholat tahajud, di sanalah Aku meluapkan semua isi hatiku kepadaNya, Hanya kepadaNya, dan berharap hari ini adalah awal yang baik untuk semua yang terbaik.



Pukul 14.00 WIB
Ayah belum pulang, Aku jadi semakin tegang. terbayang olehku akan semua mimpiku tadi malam dan tiba-tiba terdengar suara yang sudah lazim kudengar dari luar rumah..
“Assalamu’alaikum..” suara Ayah
“Wa-wa’alaikumsalam” kataku. Segera Aku keluar dari kamar dan menemuinya.
“Ayah.. bagaimana nilaiku? kataku gugup.
Terlintas bayangan dari akhir mimpiku tadi malam, oh.. seandainya mereka bahagia seperti di mimpi. Tapi aku tak berharap nilaiku seperti dalam mimpi itu. Aku masih berharap agar keadaan lebih baik dari mimpi itu.
Ayah menatapku dengan penuh keheranan.
“Tenanglah dulu” kata Ibu keluar dari kamar mandi.
Ayah duduk di sampingku. Aku menatapnya. Ia menatapku, lalu menatap Ibu. Kemudian menatap Aku lagi.
“Bu.. Ayah harap kamu jangan kaget melihat nilai anakmu ini” kata Ayah singkat.
Aku terdiam. Mungkinkah mimpi itu…
“Sungguh ayah tak menyangka Nak..” Katanya terputus
“Nilaimu.. nilai Sosiologimu sempurna dan yang lainnya juga bagus, jumlahnya 58″
“Oh Ayah…” kataku dengan senang seraya mencium tangannya berkali-kali
“Selamat ya Nak…” kata Ibu sambil memelukku.

Ya Allah terima kasih Ya allah, ternyata di balik ujianMu tersimpan kado terbaik untukku hari Ini. Jadikanlah hambaMu untuk tetap tetap dan selalu bersyukur.

#kita tak pernah tahu masa depan kita, namun aku percaya Akan ada akhir yang indah untuk semua yang baik, selagi kau percaya bahwa kekuataan doa dan Allah itu nyata.

——-

Aku melangkah ke kamar dengan senyuman puas. Tiba-tiba Aku teringat oleh para sahabatku yang masuk dalam mimpiku. Apa kabar mereka hari ini? Semoga mereka juga merasakan Apa yang Aku rasakan.

di layar HP: 4 pesan diterima.

pesan 1 dari Krish: Aku lulus. Kamu gimana?
pesan 2 dari Puput: Alhamdulillah nggak nyangka nilai bahasa Inggrisku bisa dapet 8. Ini sesuatu banget..!!
pesan 3 dari Ella: Yee…Lulus. senangnya hatiku prend… gimana nilaimu?
pesan 4 dari Arin: Teman Aku nggak lulus.

Deg!! begitu kira-kira reaksi jantungku melihat pesan terakhir. Ya Allah bag.. bagaimana mungkin Arin nggak lulus? dia kan pintar.. mengapa harus dia, mengapa harus sahabatku sendiri. Sekarang Aku harus bagaimana? Aku harus bales gimana? Apa yang harus aku lakukan untuk menghiburnya? Pasti dia sangat sedih di sana. Ya Allah.. kuatkanlah hatinya…

Tiba-tiba satu pesan di terima

pesan dari Arin : Teman aku memang nggak lulus. Kamu nggak usah sedih ya.. Aku sudah menerimanya dengan ikhlas. Karena Aku memang nggak lulus dengan nilai kebohongan, tapi Aku dan kalian semua lulus dengan nilai kejujuran :D Kaget? Ahahai berhasil ngerjain Si Rina :p

Oh, jadi gitu ceritanya? Si Arin bohongin Aku. gapapa deh, Alhamdulillah malah. Terima kasih Ya Rabb.

========================================================================
Karangan :

  • Bondan Ratnasari

Facebook :

  • Bondan Ratnasari

Blog :

========================================================================

Senin, 05 Agustus 2013

Maut

“Lusi, ayo sholat bareng!” Ucap Hasni, saudaraku. Aku pun mengangguk pelan sambil masih terus berkutat pada majalah yang sedang kubaca.

“Iya. Duluan aja ya.” Ucapku malas.

Hari ini aku memang sedang malas-malasnya. Bangun dari tiduranku saja tak mau. Apalagi sholat. Belum harus wudlu dulu. Ahh.. Belum lagi tubuhku lemas begini. Aku memang lupa sahur tadi pagi. Aku bangun kesiangan. Ya biasalah, semalam aku tak pergi terawihan. Aku pergi belanja. Sampai pukul sebelas malam, aku baru pulang dan langsung tidur. Dan sial sekali, tak ada yang membangunkanku sahur. Biarlah. Kuat-kuatkan saja.

Ku masih membaca majalah dengan mata terkantuk-kantuk. Aku benar-benar kekurangan tidur. Juga kekurangan makan. Ahh, lapar dan haus sekali aku.

“Lusi, cepat bangun! Jangan tidur. Sholat dulu, nanti tidur. Cepet!” Titah Hasni tiba-tiba.

Dengan langkah gontai, aku berjalan menuju toilet. Niatku pergi wudlu. Ahh, dasar Hasni, dia terlalu disiplin dalam agama. Aku tak suka satu sifatnya ini.

Kunyalakan keran air perlahan. Segerombolan air mulai keluar dari keran. Aku melihat betapa jernih dan segarnya air itu. Rasanya seperti bisa menyegarkan kembali dahagaku. Hatiku merasa seperti ingin meneguknya walau seteguk. Tenggorokan ini sudah hampir kehausan. Aku dehidrasi!

Kulirik ke sekitar tempatku. Tak ada siapa-siapa. Bisikan syetan terus mendukungku untuk segera meminum air tersebut. Walau aku tahu tak ada syetan jin di sini, tapi sejatinya diriku adalah jin dari manusia.

Kuteguk perlahan air itu, terasa segar sekali. Air dalam keran itu sudah benar-benar bisa mengisi kekosongan di tenggorokan ini. Rasanya aku seperti hidup sekali. Bayangkan saja, saat haus-hausnya berpuasa, aku dapat meneguk satu tegukan air jernih nan segar itu. Rasa hausku sudah tak ada lagi. Ini Segar! Tapi sebaiknya, bagi yang membaca cerpen ini jangan dibayangkan kalau sedang puasa. Bahaya nantinya haha :P .

Kembali ke cerita.
Aku selesai meneguk air itu. Segera kututup keran air cepat. Pandanganku liar menatap sekitar. Itu hanya tuk memastikan agar tak ada satu pun yang melihatku tadi.

Perasaan lega menghampiriku ketika tak ada satu pun orang di sekitarku. Segera aku pun pergi ke kamarku. Kukunci kamarku rapat. Aku ingin tidur. Tak boleh ada satu pun orang yang menggangguku. Termasuk HASNI.



Hari ini aku tak terlambat bangun sahur. Mungkin karena kemarin aku tidurnya pukul empat sore. Aku tak sama sekali sholat tarawih. Bahkan berbuka puasa pun tidak. Ahh, pantas saja perutku sangat lapar.

Akupun bangun dan beranjak menuju dapur. Di sana ada Ibu sedang memasak. Aku pun melangkah menuju toilet untuk membersihkan wajah dan buang air kecil.
Setelah selesai, ya aku pergi ke meja makan.

Di meja makan, semua anggota keluargaku sudah ada. Nenek, Kakak, Adik, Ibu, Ayah, maupun Hasni. Mereka sudah siap untuk sahur. Aku pun duduk di samping Adik dengan seulas senyum pada mereka. Namun aneh, mereka malah memberiku cibiran. Aku pun menyondorkan piring ke arah Ibu.

“Ibu, bawakan nasinya!” Ucapku manja. Karena memang, nasi kami ada di dekat Ibu.

Ibu pun mengambilkan sekepal nasi untukku dengan sedikit keras. Seperti tak ikhlas. Tidak biasanya. Aku sedikit mencibir. Ketika aku akan mengambil laukku, paha ayam, malah diambil terlebih dahulu oleh Hasni.

“Hasni, itu bagianku!”

“Kau bisa memakannya yang lain. Itu sama ayam!” Bentaknya.

Aku mengalah. Biarlah aku dapat dadanya. Aku pun hendak mengambil apel. Kebetulan apelnya tinggal satu lagi.

“Hupp…” Tiba-tiba apel itu direbut Adik.

“Adik, itu bagianku!”

“Sudahlah! Kau ini sudah besar! Mengalah untuk yang lebih kecil!” Ucap Nenek so bijak.

Lagi-lagi aku harus mengalah. Tak apalah. Semoga saja bisa menghapus dosa aku batal kemarin. Hihihhh…



Hawa siang ini begitu menyengat. Padahal hujan. Aneh, ya? Kurasakan sebuah hembusan angin. Bukan angin sepoy. Melainkan angin hampa. Tak terasa sedikit pun ketenangan di hidupku hari ini. Apa mungkin karena aku batal kemarin, ya? Juga tak sholat. Juga malah membeli petasan dan mercon? Ahh, buat apa juga aku memikirkan yang seperti itu. Biar saja. Itu uangku. Itu diriku.

Dari kejauhan, tiba-tiba kutangkap sebuah bayangan. Bayangan tiga orang yang tengah memakai jubah hitam. Semuanya jubah hitam. Mereka terlihat memandangku. Memandang dengan pandangan tajam.

Bulu romaku tiba-tiba berdiri. Kurasakan getaran di tubuhku. Keringat dingin menghujam dan menghujani diriku. Aku sedikit bergidik melihat mereka semua.

Sambil menatap kiri-kanan, aku masih tetap waspada keadaan sekitar. Aku pun perlahan mulai berdiri dan hendak menjauh dari tempat duduk ini. Aku merasa tak enak di pandang seperti itu.

Aku pun beranjak menuju rumah. Ketika hendak masuk pintu, tiba-tiba tiga orang itu sudah ada di depanku. Satu sebelah kiri, satu sebelah kanan, dan satu lagi di depanku. YA! DI DEPANKU!

Aku pun melihat mereka hendak menyentuhku. Segera aku berjalan mundur.

“Apa yang akan kalian lakukan? Apa?!” Ucapku dengan jantung sangat berdebar. Ketiga makhluk yang tak aku kenali itu terus mengikutiku sampai akhirnya aku tertangkap.

Mereka menyeretku keras. Mereka menyeretku entah ke mana. Aku terus meronta-ronta menta di lepaskan.

“Kalian akan membawaku ke mana? Lepaskan aku! Lepaskan!” Ujarku sambil meronta.

Mereka masih tetap diam dan menyeretku keras. Memang hanya dua yang menyeretku. Satunya lagi terus berjalan di depanku.

“Ke mana aku! Aku tak mau! Tak mau!!!” Teriakku sambil mencoba melepaskan pegangan mereka sekeras mungkin.

“Lepaskaaannn!”

“DIAM!” Gertak seseorang yang berjalan di depan. Kedua orang aneh yang menyeretku pun melepaskan keras genggamanku. Seseorang yang ada di depan menatapku tajam lagi.

“Apa yang akan kau lakukan padaku? Apa!”

“Aku adalah malaikat pencabut nyawa. Hari ini aku akan mengambilmu atas Izin Tuhan-Ku.”

“Apa maksudmu! Aku tak mau mati sekarang!” Tukasku cepat.

Darahku seakan mendidih mendengar ucapannya.

“Salah siapa? Kau tak menjalankan hidupmu dengan benar! Allah sudah memberikan banyak waktu untukmu. Lantas, mengapa kau malah menyia-nyiakannya? Kau malah tertawa-tawa. Kapan kau akan ingat terhadap Tuhan yang yang telah menciptakanmu? Kapan kau akan bersyukur akan nikmat Tuhan yang telah banyak terlimpah padamu? Kapan kau akan mendirikan sholat yang sudah menjadikan kewajibanmu? Kau bahkan tak pernah ingat kepada Tuhanmu sendiri. Hidupmu kau isi dengan hal-hal yang tak sama sekali berguna! Maka dari itu, untuk apa kau hidup? Kau sudah pantas MATI! Kau sudah pantas disholatkan jika tak bisa mendirikan sholat! Tak ada manfaat sama sekali di hidupmu! Tak ada! Dan sekarang saatnya untuk mengatakan selamat tinggal pada surga duniamu!” Ucapnya lantang.

Aku menelan ludah. Hatiku rasanya ingin mengucapkan istighfar. Bibirku rasanya ingin mengeluarkan kata-kata memohon ampunan. Namun entah mengapa, aku merasa tak bisa. Aku merasa ada sesuatu yang mengganjalku untuk mengatakan itu.

Air mataku berlelehan di pipi. Rasa penyesalan mulai tumbuh di hatiku yang keras ini. Rasa sesal yang mendalam mulai hadir di jiwaku yang sudah kotor dan lusuh oleh dosa.

Para malaikat pencabut nyawa itu pun menyeretku menuju pemenggal kepala. Aku sudah pasrah akan segala yang terjadi pada diriku. Walau aku merasa sangat berat sekali untuk melakukan semua ini. Ampuni aku Ya Allah.

Aku sudah terkulai pasrah di atas papan pemenggalan. Hatiku terus berdzikir dan meminta ampunan. Air mataku masih terus berderai menyadari betapa bodohnya diriku. Aku sungguh bodoh.

“Astaghfirullah, Astaghfirullah. Ampuni aku Ya Allah. Jika Kau hendak mengambil nyawa ini, ambil saja! Jika Kau hendak melempar tubuh ini ke neraka, lempar saja! Aku sudah pasrah akan segalanya. Tak mungkin aku bisa kembali dan memulai lagi kehidupan baru yang lebih baik. Jika Kau berkenan memberikanku kehidupan baru untukku lagi, aku berjanji. Aku bersumpah! Aku tak akan menyia-nyiakan waktu dan tak akan ingkar terhadap-Mu. Aku sungguh belum siap untuk melihat diriku dibaluti kain putih yang akan menjadi pakaian terakhirku. Aku tak sanggup. Aku mohon, ampuni aku Ya Allah.” Lirihku pasrah.

Besi pemenggal kepala itu mulai turun perlahan. Kupejamkan mataku yang masih terus-terusan mengeluarkan air mata. Aku sudah pasrah jika besi tajam itu memutuskan leherku ini. Leher yang awalnya selalu kubukakan untuk kaum Adam.

“Astaghfirullah,”

Mataku tiba-tiba terbuka. Terlihat ada semua keluargaku tengah menangisiku. Apa aku benar-benar sudah MATI?

“Lusi, kau tak apa-apa?” Tanya Hasni cepat.

Aku sedikit bingung menatap mereka.

“Kau tadi pingsan ketika hendak pergi ke toilet. Jika kau tak kuat puasa, tak perlu puasa saja. Jadinya seperti ini. Kita semua khawatir. Uhh…” Tukas Kakak.

Aku mengernyitkan dahi. Bukankah tadi aku hendak dibawa oleh malaikat-malaikat itu? Atau itu hanya mimpi belaka? Tapi mengapa begitu nyata? Atau itu sebuah mimpi penyadar? Penyadar untukku yang tak pernah ingat Tuhan?
Ya Allah, Astaghfirullah. Aku sudah hampir lupa akan segala tentang-Mu. Aku sudah terlalu terlena dengan dunia ini. Aku sudah terlalu menyia-nyiakan waktu. Aku tak pernah berfikir bahwa hidup itu sangat singkat. Aku tak pernah berfikir bahwa maut itu akan selalu mengikuti kita kapan pun itu. Aku tak pernah ingat. Jika saja diriku tak lalai, aku pasti tak akan mengalami hal mengerikan ini. Ini semua pasti untuk kebaikanku. Terima kasih, Ya Allah. Engkau telah berkenan menyadarkan hamba-Mu yang lalai ini. Engkau telah membukakan pintu hidayah untukku. Ya Allah, aku berjanji. Aku tak akan pernah mengulangi kelalaianku lagi. Tak akan pernah mengulangi kebodohanku lagi. Tak akan. Walau pun sampai MAUT menjelang.

========================================================================
Karangan :

  • Selmi Fiqhi

Blog :


Facebook :


Twitter :

  • @SelmiFiqhi

========================================================================

Kerumah Presiden

Adik perempuanku selalu belajar dengan rajin. Ingin bertemu Presiden, katanya. Walaupun baru kelas III SD, setiap aku bangun pagi buta untuk belajar, Adik ngotot ingin belajar juga. Ketika aku tidak membangunkan karena tidak tega mengganggu tidur pulasnya, Adik malah marah besar bahkan disertai isak tangis. Entah apa motifnya. Karena ingin menyaingiku atau mungkin kata-kata Ayah yang telah memacu semangatnya.

Waktu itu, satu tahun yang lalu saat Ayah baru pulang kerja. Seperti biasa, Ibu, Aku dan Adik menunggu Ayah tercinta di ruang tengah sambil nonton TV bersama. Saat Ayah memasuki ruangan, kami menyambut dengan bergantian menceritakan apa yang kami lakukan seharian itu.
“Yah… tadi Kakak ketemu Bapak gubernur, Kakak juga bisa salim* sama foto-foto…” Senyum bangga Ayah membuatku yang meskipun telah memasuki kelas I SMA, semakin manja.
“Eh iya, Kakak menang apa?” Tanya Ayah ramah.
“Lomba Karya Tulis Ilmiah, Yah… Tingkat Provinsi… Seneng deh bisa ngobrol sama Bapak Gubernur langsung, nggak cuma lihat dari TV…” Jawabku ria.
“Wah, Kakak memang juara, hebat!” Puji dari Ayah.
“Adik juga bisa kan, Yah? Ketemu Bapak Presiden malahan!” Celetukan Adik sering membuatku geli.
“Mimpi…” Gurauku menggoda Adik.
“Siapa bilang. Adik bisa kok. Orang biasa menegur sapa karena apa? Karena kenal kan? Begitu juga dengan Presiden. Adik bisa bertemu dengan Presiden, kalau Presiden mengenal Adik. Presiden akan mengenal Adik, kalau Adik memperkenalkan diri. Karena itu, Adik harus belajar dengan rajin. Supaya bisa mengenalkan diri ke Presiden melalui prestasi-prestasi yang berhasil Adik raih. Oke, Sayang…” Sambil mengelus rambut Adik, Ayah selalu bisa menjawab pertanyaan Adik dengan bijak.

Sejak malam itu, perubahan Adik sangat drastis. Semakin giat belajar. Semangatnya begitu menggebu sampai membuat Ibu cemas. Hem, bertemu presiden? Mungkin tidak ya? Untuk bertemu Walikota yang tetangga satu perumahan saja susahnya minta ampun, apalagi bertemu Presiden…
Tapi, kata menyerah tidak tersirat sedikitpun di wajah Adik. Adik tetap belajar dan belajar. Nilai akademiknya pun melonjak. Bakat menjadi mayoret drum band di SDnya juga terasah dengan baik. Berbagai kejuaraan mulai dari lomba antar sekolah, karnaval 17 Agustus, peringatan HUT kota, sampai HUT Bhayangkara disabet grupnya. Adik berambisi mencetak prestasi yang membuat Presiden menoleh padanya.

Melihat kesungguhan Adik, Ayah mempunyai rencana. Liburan sekolah kali ini, keluarga kami pergi ke suatu tempat yang Ayah rahasiakan. Di sepanjang jalan, Adik memandangi pepohonan yang bergerak berlawanan arah malalui kaca mobil hasil kerja keras Ayah. Adik nampak heran, kemana mobil yang dikendarai Ayah ini akan berhenti.
“Kita mau kemana sih, Yah?” Di puncak keingin tahuannya, Adik bertanya.
“Ke rumah Presiden” Jawab ayah singkat.
“Yang bener, Yah?” Timpalku tak percaya.
“Lho, masak bohong?” Ayah balik Tanya untuk meyakinkan.
“Horreee…” Sorak Adik bahagia.

Akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Banyak dipajang foto, semerbak wangi bunga dan kerumunan orang, pasti itu kesan pertama Adik. Ayah mengajak kami duduk, kemudian dua buku kecil dipindah tangankan kepadaku dan Adik. Ayah mencium kening kami berdua, membuat rasa sayangku semakin melimpah. Tak lama setelah itu, Ayah membelai rambut Adik.
“Sayang, disini raga soseorang yang dulu pernah menjadi Presiden dimakamkan. Adik harusnya senang bisa berkunjung ke rumah terakhirnya dan bisa mendo’akannya. Ayah senang tahu Adik belajarnya sungguh-sungguh, tapi kalau berlebihan juga tidak baik. Adik mengerti kan?” Pelan-pelan Ayah menjelaskan maksudnya.
Anggukan Adik menjawab pertanyaan Ayah. Bersama-sama, kami membuka buku Yasin dan Tahlil yang Ayah berikan. Ayah memimpin kami berdo’a. Ibu, Aku, dan Adik dengan khusyu’ mendo’akan mantan Presiden yang pernah berjasa untuk negeri ini.
Sesampainya kembali di mobil, Adik menghampiri Ayah.
“Jadi baru bisa ke rumah Presiden kalau Presidennya sudah wafat ya, Ayah?” Kali ini Ayah bingung menjawab pertanyaan polos Adikku.

*mencium tangan dalam silaturrahmi Islam

========================================================================
Karangan :

  • Miga Imaniyati

Facebook :

  • Miga Imaniyati
========================================================================

Sahabat Yang Pertama

Jonathan, anak cowok baru. Tubuhnya tinggi, kulitnya putih, dan wajahnya tampan. Selain penampilannya yang keren, dia Juga berotak cerdas. Benar-benar cowok sempurna. Tak heran bila dia menjadi idola banyak teman cewek di sekolah.

Jonathan memang segalanya, tapi sayang dia cenderung pendiam. Kalau bicara hanya seperlunya saja. Ia tidak suka bergaul atau berkumpul dengan teman-teman cowok yang lainnya. Ia Juga tidak pernah mengikuti kegiatan yang diadakan di sekolah. Oleh karena itu, dia tidak mempunyai teman atau pun sahabat dekat di sekolah.

Jonathan datang ke sekolah hanya untuk belajar. Pulang sekolah dia langsung kabur entah kemana. Saat istirahat, dia hanya duduk di dalam kelas sambil membaca buku. Tidak ada istilah nongkrong di kantin sambil ngobrol dengan sesama teman. Palingan dia nongkrong di perpustakaan. Menurutku, orang yang tidak gaul seperti dia mestinya hidup di hutan saja…

Selama ini Jonathan memang selalu menjadi Juara pertama di kelas. Namun sayang, kepintarannya itu sepertinya membuat dia Jadi sombong dan suka meremehkan orang lain. Karena sikapnya itu, aku merasa tertantang untuk mengalahkannya.

Akhirnya, kesempatan itu datang ketika nilai ulangan matematikaku ternyata lebih tinggi dari Jonathan. Aku bersyukur karena Pak Abbas, guru matematika, membacakan nilai matematika di depan kelas, sehingga Jonathan mendengar bahwa nilai ulangan matematika ku lebih tinggi dari nilainya.

“Yunita sepuluh, Jonathan delapan!” ucap Pak Abbas.

Memang, itu pertama kali aku berhasil mengalahkan nilai Jonathan. Kulihat dia seperti tidak percaya kalau aku bisa mengalahkannya.

Hari itu aku benar-benar bahagia, karena bisa mengalahkan Jonathan. Aku merasa berada di atas angin.

Saat Jam istirahat, aku hendak keluar kelas, tak kusangka Jonathan menghampiriku sambil menjabat erat tangan ku.

“Selamat yaa, Mir! Ternyata otakmu boleh Juga!” katanya sambil tersenyum. Senyum manisnya memang bikin Jantungku berdebar-debar. Tapi, hatiku terlanjur panas mendengar perkataannya yang bernada meremehkan itu.

“Emang cuma kamu aja yang bisa mendapat nilai bagus!” kataku sewot.

“Hmm… aku harus terus bisa mengalahkannya,” tekadku dalam hati. Tadinya aku cuma mau membuktikan padanya kalau aku Juga bisa mendapat nilai ulangan yang tinggi. Tapi karena dia meremehkan kemampuanku, akhirnya aku Jadi merasa lebih tertantang lagi untuk terus mengalahkannya. Sejak itu, aku pun Jadi tambah giat belajar. aku tidak ingin nilai-nilai ulangan Jonathan lebih tinggi dari nilai ulanganku. Akhirnya, nilai-nilai ulangan kami Jadi saling bersaing. Kadang nilaiku lebih tinggi dari Jonathan, kadang nilai Jonathan lebih tinggi dari nilaiku. Dan sahabat-sahabatku, Martha, Hana, dan Grace ikut memberi semangat agar aku selalu bisa mengalahkan Jonathan.

“Kau harus bisa terus mengalahkan Jonathan, Yunita! Mengalahkan nilai-nilainya dan Juga mengalahkan kesombongannya!” kata Grace memberi semangat kepadaku.

“Ya, benar Grace. Jonathan memang harus tahu, kalau aku Juga bisa mengalahkannya,” kataku.

Kini, untuk menunjang nilai-nilai ku, aku ikut bimbingan belajar. Aku Juga menambah waktu belajar ku dan banyak membaca buku pengetahuan.

Setiap pagi, setelah bangun tidur, aku sempatkan diri untuk belajar sebentar. Lalu, malam hari, waktu belajar aku tambah satu Jam lagi. Aku sampai heran, aku yang tadinya sangat malas belajar, tidak pernah mempedulikan nilai-nilai ulangan yang kudapat, kini bisa berubah total. Ini semua gara-gara Jonathan, cowok bule yang sombong itu. Tapi kalau dipikir-pikir, sebenarnya aku harus berterima kasih kepada Jonathan, karena dialah yang telah membuat aku Jadi tambah giat belajar.

Saat kenaikan kelas pun tiba. Wali kelasku, Bapak Suryono, mengumumkan murid-murid yang menjadi Juara kelas.

“Anak-anak, Bapak akan mengumumkan siapa yang menjadi Juara kelas tahun ini. Kita mempunyai Juara kelas baru, yaitu… Yunita! Nilai rata-rata Yunita hanya terpaut satu angka dengan Juara kelas semester lalu, yaitu Jonathan. Jonathan Juara dua dan Renita Juara tiga. Yunita, Bapak salut padamu, nilai-nilai ulanganmu sekarang melesat sangat Jauh dibanding semester lalu. Bapak ucapkan selamat buat kalian bertiga, pertahankan prestasi kalian, ya!” pesan Pak Sur, disambut tepuk tangan meriah teman-teman sekelas.

“Hebat kau, Yun! Selamat yaa, kau bisa mengalahkan Jonathan,” ucap Grace sambil menyalamiku.

Aku pun sangat gembira dan tidak menyangka kalau akhirnya bisa mengalahkan Jonathan, si kutu buku itu.

“Selamat, Yun. aku mengakui kekalahanku. Kau memang hebat dan pantas menjadi Juara. Maafkan aku, kalau selama ini aku meremehkanmu,” kata Jonathan menyalamiku dengan tulus. Aku pun menyambut uluran tangannya dengan hangat.

“Eh… iya, Nat. Seharusnya, aku yang berterima kasih kepadamu, karena waktu itu aku merasa diremehkan, sehingga aku Jadi tertantang untuk bisa menyaingimu. Aku Jadi punya semangat belajar yang tinggi untuk membuktikan padamu kalau aku Juga mampu mendapatkan nilai-nilai sepertimu,” kataku.

“Ya, aku akui, meskipun aku punya kelebihan, tapi seharusnya aku tidak boleh sombong dan meremehkan orang lain. Ternyata benar kata orang bijak, di atas langit masih ada langit. Yunita, kau telah mengalahkan aku dan Juga mengalahkan kesombonganku,” kata Jonathan merendah sambil tersenyum manis.

“Jonathan, aku senang kamu sudah menyadari kesalahan mu. Mudah-mudahan kamu bisa mengubah sikapmu. Kamu harus bisa menjalin persahabatan dengan teman-teman yang lain, sehingga tidak terkesan sombong,” pesanku.

“Ya, kau benar. Tetapi… Yun, maukah kau yang pertama menjadi sahabatku?” tanya Jonathan sambil tersenyum dan menatap tajam wajahku.

“Hmm… eh… iya.. Nat! aku mau Jadi sahabatmu…” Jawabku agak gugup sambil membalas senyumanmu. Hatiku pun berbunga-bunga. Bayangkan, siapa sih yang tidak ingin menjadi sahabat bagi Jonathan yang tampan dan cerdas?

========================================================================
Karangan :

  • Giselle Iona Rachel Tuelah

Facebook :

  • Giselle Tuelah

========================================================================

Minggu, 04 Agustus 2013

Luka

Suara burung itu mengagetkanku. Entah sudah berapa lama aku duduk di tempat ini. Saat ku lihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Sudah pukul 10 batinku. Cukup lama juga aku duduk di pelataran masjid sekolahku ini.
Entah kenapa ku langkahkan kakiku ke tempat ini. Mungkin karena tidak ada kegiatan lain yang harus ku lakukan. Sekolahku sedang sibuk mengadakan lomba untuk mengisi waktu setelah ulangan. Dan ini saat yang tepat untukku menyendiri. Beranda masjid ini adalah tempat yang menyenangkan. Aku bisa terhindar dari celotehan teman-temanku yang kadang-kadang ngawur. Tempat ini begitu tenang. Membuat pikiranku yang kusut kembali jernih.

Ku lihat di sekitar masjid, banyak siswa-siswa lain yang duduk sepertiku. Tetapi kebanyakan mereka bergerombol dengan teman-temannya. Hanya untuk sekedar menepis sepi yang di rasa. Mungkin saja sama seperti kesepian yang ku rasakan.
Beberapa pasang mata menoleh ke arahku. Mungkin mereka heran, kenapa aku berada di tempat ini sendirian. Mungkin itu juga yang menjadi pertanyaanku. Kenapa di tempat ini aku merasa sendirian? Padahal aku salah. Seharusnya aku menyadari kalau Tuhan masih bersamaku. Kesepian yang sekarang ini ku rasakan, tiada artinya jika aku menyadari kalau Tuhan bersamaku.

Aku menatap pohon akasia yang ada di seberang pelataran masjid. Pohon itu semakin meranggas karena matahari bulan Juni yang terik. Daun-daunnya yang ditiup angin, seakan menyampaikan lagu kesedihan tentang kesendiriannya.
Kemudian tatapan kosongku kembali menatap sekumpulan siswa yang berada beberapa meter di depanku. Ada rasa sedih yang menyeruak dadaku ketika melihat mereka. Kesedihan yang menenggelamkanku dalam ruang yang tak ku mengerti. Aku mencoba menepis semua gundah ini.

Sekarang aku mulai menyadari apa yang sebenarnya terjadi padaku. Aku sadar, ada sekelumit rasa yang membuncah dalam hatiku. Rasa yang kian menggangguku. Belum pernah lagi ku rasakan hal ini. Sejak aku ditinggalkan pergi oleh seorang laki-laki. Yang kalau boleh jujur, laki-laki yang sangat aku cintai. Sejak saat itu aku takut berkelana di alam nyata. Aku takut, aku akan semakin tenggelam dalam kepedihan.

Matahari semakin terik. Aku sudah tak ingat berapa lama aku di tempat ini. Hatiku bertanya, kenapa dia belum muncul juga? Biasanya di saat seperti ini, dia selalu pergi ke masjid. Entah untuk apa. Yang pasti senyumnya sudah menggugah hatiku.
Tapi, sampai saat ini dia belum kelihatan. Kemana dia? Tanyaku dalam hati. Hari ini aku hanya ingin melihat senyumnya. Dan aku ingin menyampaikan isi hatiku padanya. Walaupun dia pikir aku seperti orang gila, aku tidak peduli. Aku hanya ingin dia tahu apa yang aku rasakan.

Aku semakin lelah, menunggu ketidakpastian ini. Akankah takdir berpihak padaku? Ku coba mengisi waktuku dengan membaca novel yang ku pinjam dari temanku. Tapi, itu tidak bisa mengalihkan pikiranku tentang dia. Sosok yang betul-betul mengubah duniaku. Ya Tuhan, kenapa waktu begitu lambat berjalan? Padahal aku sudah lama menunggunya. Aku bertekad, hari ini akan ku tuntaskan semuanya. Semua rasa yang begitu menggangguku.
Ku lirik arlojiku sekali lagi. Sudah menunjukkan pukul 12 siang. Matahari tepat berada di atas kepalaku. Perutku semakin lapar. Aku takut jika aku pergi, aku tidak bisa bertemu dia lagi. Kenapa aku jadi seperti ini? Sadar Din, di dunia ini tidak ada pangeran berkuda seperti impianmu.

Aku mondar-mandir untuk sekedar melepas penat yang menghampiri. Kenapa dia belum datang juga? Aku sudah menunggunya dari tadi pagi. Tapi, kenapa sampai sekarang dia tidak datang? Apa mungkin, dia tidak ke masjid hari ini?
Tiba-tiba angin putus asa kembali menerpa hatiku. Sejak kapan aku menjadi putus asa seperti ini? Hanya karena satu hal. Cinta, yang bagIku kata-kata itu sangat sulit untuk dapat ku miliki. Aku mencoba bersabar. Tunggu satu jam lagi. Kalau dia tidak datang, lebih baik aku akhiri semuanya. Ku mainkan jemariku. Ku hempaskan diri yang lelah ini ke lantai masjid. Walaupun hatiku gelisah, ku coba untuk tenang.

Terdengar suara azan sayup-sayup berkumandang. Ku lihat beberapa siswa yang tak ku kenal memasuki rumah Allah ini. Dan aku, tentu saja aku juga masuk. Setelah berwudhu, aku bersiap untuk shalat berjamaah.
Di dalam doaku setelah shalat. Aku hanya meminta yang terbaik untukku. Aku hanya ingin semuanya jelas, karena penantian ini tidak menyenangkan. Hatiku pedih menahan keharuan. Kalaupun nantinya aku tidak bisa bersama dia, mungkin memang itu yang terbaik untukku. Aku berharap agar dia selalu bahagia.

Setelah shalat, aku kembali ke pelataran masjid. Alhamdulillah, sekarang pikiranku sudah tenang. Mungkin berkat shalat Zuhur yang sudah ku laksanakan.
Tidak berapa lama, orang yang aku nanti pun datang. Aku berusaha untuk tersenyum padanya. Tapi dia sama sekali tidak menoleh kepadaku. Dia bersama teman-temannya sehingga aku pun mau tidak mau harus menunda keinginanku untuk berbicara kepadanya.

Tanpa sengaja mataku tertuju pada selembar kertas yang terjatuh di tanah. Sepertinya itu milik Ari. Ku langkahkan kakiku untuk mengambilnya dan ternyata itu adalah sebuah surat. KU buka sampulnya dan aku mulai membaca huruf demi huruf yang tertera.

DEAR NIDA APRILIANI
Mungkin bagimu, aku teralu lancang. Tapi, aku hanya ingin mengatakan semua ini padamu. Maafkan aku jika kata-kataku menyinggung perasaanmu.
Sejak pertama kali melihatmu, ada rasa yang menyeruak dalam dadaku. Entah apa itu. Saat itu aku tidak peduli. Tapi, seiring waktu aku mulai merasakan kalau rasa itu kian menjadi. Dan, sekarang aku ingin menyatakan semuanya padamu.
Maukah kamu menjadi kekasihku? Orang yang selalu ada untukku, yang mencintaiku seperti aku yang mencintaimu. Aku tunggu jawabanmu, Nida. Aku janji, aku akan selalu mencintaimu.

With Love
ARI R. KUSUMA

Ya Tuhan, apa yang terjadi? Surat ini, surat ini sudah cukup menjawab semua penantianku. Apakah semua ini nyata? Ternyata orang yang dia cintai bukan aku. Titik-titik bening itu pun jatuh. Aku merasa bumi yang ku pijak sudah tak ada lagi. Aku tidak lagi merasakan semilir angin. Semua sudah jelas sekarang.
Tiba-tiba mataku tertuju kepada sesosok wanita yang ku kenal, Nida. Dan di sampingnya, di samping wanita itu adalah Aldi, laki-laki yang mulai aku cintai. Laki-laki yang ku harap bisa menjadi pangeranku.

Sekarang semuanya sudah musnah. Semua ini lebih dari cukup untukku. Air mata yang sedari tadi membasahi pipiku, semakin mengucur deras. Dunia mulai tidak bersahabat untukku. Dan, sekarang titik-titik hujan bercampur dengan air mataku. Ku biarkan hujan membasahi diriku. Membuat luka dalam hatiku menjadi semakin menganga. Aku tidak tahu, kenapa hujan turun sekarang? Apakah alam ikut menangis bersamaku? Aku sadar, semuanya sudah musnah. Mimpiku sudah pergi tak bersisa. Hanya tinggalkan luka yang menggores hatiku.
Sayup-sayup di antara suara hujan, ku dengar lagu Luka dari Angkasa.

Mestinya ku tak harus mengenal dirimu
Mestinya ku tak harus mencintai dirimu
Sakit yang ku rasakan takkan pernah hilang
Cinta yang kau berikan bukanlah untukku

========================================================================
Karangan :
  • Rahmi Pratiwi 
Facebook :
  • Rahmi Chelsea Ayumi Aprilia
========================================================================